EmitenNews.com - Harga emas dunia diperdagangkan di kisaran USD 4.020 per ons pada hari Rabu. Pergerakan ini mempertahankan penurunan yang terjadi pada sesi sebelumnya, seiring dengan pulihnya harga minyak akibat kembali meningkatnya permusuhan di kawasan Timur Tengah.

Kondisi geopolitik tersebut kembali menghidupkan ketegangan pasar serta membuat investor fokus pada tekanan inflasi dan prospek suku bunga.

Pihak militer Amerika Serikat menyatakan telah berhasil mencegat aksi yang mereka sebut sebagai serangan mendadak dari Iran. Serangan tersebut sebelumnya menyasar pasukan Amerika Serikat yang ditempatkan di berbagai titik di seluruh kawasan Timur Tengah.

Di sisi lain, para investor tengah menunggu keputusan kebijakan dari Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve yang diperkirakan bakal mempertahankan suku bunga acuan.

Meski demikian, pelaku pasar tetap memperkirakan adanya peluang sebesar sepertiga untuk kenaikan suku bunga. Ketidakpastian ini memuncak menjelang pengumuman resmi kebijakan, di tengah desakan berulang dari Presiden Donald Trump agar suku bunga segera diturunkan.

Menurut Trading Economics para pedagang turut memperhitungkan probabilitas sekitar 80 persen untuk kenaikan suku bunga pada bulan September mendatang. Tingginya angka probabilitas ini semakin memperkuat ekspektasi bahwa biaya pinjaman di tingkat global akan tetap berada di level tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.

Perkembangan harga emas global serta arah kebijakan suku bunga AS ini menjadi perhatian serius bagi pelaku pasar keuangan di Indonesia. Pergerakan harga emas dunia dan suku bunga global umumnya memberikan pengaruh langsung terhadap nilai tukar rupiah, pergerakan harga emas domestik, hingga arus investasi di pasar modal tanah air.(*)