Era Rp1 ARB Brutal, Begini Dalih GOTO
:
0
Gairah investor kala GOTO listing di Bursa Efek Indonesia. Foto - Dok Bloomberg
EmitenNews.com - Saham Goto Group (GOTO) empat kali beruntun mentok auto rejection bawah (ARB). Itu setelah terpangkas 44 persen alias 22 poin menjadi Rp28 dari edisi 25 September 2026 di level Rp50. Longsoran saham GOTO itu, menyusul penerapan batas harga bawah Rp1 dari sebelumnya Rp50.
Kala batas harga bawah Rp50 belum dicabut, GOTO menjadi penguasa market cap khusus emiten harga gocap dengan tabulasi Rp57 triliun. Namun, seiring implementasi harga batas bawah Rp1, nilai kapitalisasi GOTO terus merosot. Saat ini, dengan harga Rp28, kapitalisasi pasar GOTO tersisa Rp31,94 triliun.
Artinya, sepanjang empat hari terakhir, kapitalisasi pasar GOTO musnah Rp25,06 triliun alias nguap 43,96 persen. Kondisi itu, mendapat perhatian, dan sorotan Bursa Efek Indonesia (BEI). Merespons keprihatinan operator pasar modal Nusantara itu, manajemen GOTO mengaku koreksi saham tidak merefleksikan fundamental perseroan.
Tidak disangkal, sejak 28 September 2026, menyusul pemberlakuan peraturan baru batas bawah harga saham (floor price) pasar reguler dan pasar tunai dari Rp50 menjadi Rp1 per saham, para pemegang saham telah antre, dan menunggu menjual saham untuk menyesuaikan portofolio, menjadi memiliki kesempatan untuk dapat menjual saham GOTO, sehingga menyebabkan fluktuasi harga saham perseroan.
”Perseroan meyakini harga saham GOTO saat ini tidak mencerminkan fundamental bisnis yang terus menerus menguat,” tegas R.A Koesoemohadiani, Director & Corporate Secretary Goto Gojek Tokopedia, kala menjawab pertanyaan Bursa Efek Indonesia.
Dinamika harga saham lebih disebabkan oleh berbagai aspek teknis. Misalnya, GOTO resmi keluar dari MSCI Global Standard Indexes berdasar hasil review indeks Agustus 2026. Keputusan MSCI mengeluarkan GOTO dari indeks murni bersifat teknis. Itu didorong volume perdagangan saham rendah akibat saham GOTO berada pada harga minimum yaitu Rp50 per saham sejak Mei 2026.
Keputusan tersebut tidak disebabkan oleh dan tidak mencerminkan kinerja perseroan. Sebelumnya, efektif 22 Juni 2026, GOTO juga resmi dikeluarkan dari FTSE Global Equity Index Series (GEIS) Mid Cap Index berdasar hasil review indeks periode Juni 2026. Keputusan FTSE itu, karena GOTO tercatat di papan pengembangan BEI yang dinilai tidak memenuhi kriteria untuk masuk FTSE GEIS.
Keluarnya GOTO dari kedua indeks itu, memicu tekanan jual dari investor institusi asing, terutama passive funds yang menjadikan Indeks MSCI, dan FTSE sebagai acuan investasi yang wajib menyesuaikan portofolio setelah saham GOTO dikeluarkan dari indeks. So, sejak Juni 2026, secara teknikal terus terjadi tekanan jual atas saham GOTO.
Namun, rendahnya volume perdagangan menyebabkan passive funds wajib menyesuaikan portofolio tidak dapat menjual saham GOTO di pasar reguler BEI. Selain sisi teknis itu, kinerja bisnis Grup GOTO terus menunjukkan pertumbuhan positif. Pada kuartal II 2026, GOTO kembali mencetak laba bersih Rp252 miliar, mencatatkan laba selama dua kuartal berturut-turut. Pendapatan bersih Rp5,7 triliun, dan EBITDA yang disesuaikan lebih dari Rp1 triliun.
GOTO juga tetap berada di jalur tepat untuk mencapai panduan EBITDA yang disesuaikan untuk setahun penuh Rp3,2-3,4 triliun. GOTO tetap fokus memperkuat kinerja bisnis, yang perseroan yakini akan menciptakan nilai tambah jangka panjang bagi para pemegang saham. Mengenai aksi korporasi, dalam rapat umum pemegang saham luar biasa pada 18 Juni 2026, GOTO telah mendapat restu membeli kembali saham maksimal Rp3,5 triliun periode 19 Juni 2026 sampai 18 Juni 2027.
Related News
Caplok INET, Pengendali DOOH Gelontor Dana Jumbo
Pikat Investor, Hari ini AALI Eksekusi Buyback Rp400 Miliar
Menuju Raksasa AI Infrastructure! DOOH Siapkan 4 Aksi Korporasi
5 Tahun Inovasi, Livin’ by Mandiri Beri Solusi Investasi & Pembiayaan
Mantan Gubernur BI Ini Lepas Kursi Dirut Sinar Mas Multiartha (SMMA)
Ditunjuk Pimpin Telkom (TLKM) Begini Jejak Profesional Nanang Hendarno





