EmitenNews.com - Korban meninggal erupsi Gunung Semeru sampai Selasa (21/12/2021), mencapai 50 jiwa. Posko Darurat Semeru sebelumnya mendata jumlah warga yang tewas akibat guguran awan panas, dan aliran lahar dari  gunung di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur itu, hanya 49 orang. Aktivitas vulkanik Gunung Semeru masih berstatus level III. Level Siaga itu, dinaikkan sejak 16 Desember 2021.


”Pada Senin (20/12/2021) satu warga yang mengalami luka berat dikonfirmasi meninggal dunia. Petugas SAR gabungan mengumpulkan lima potongan tubuh dari lokasi terdampak bencana Gunung Semeru itu,” kata Plt. Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari, di Jakarta, Selasa (21/12/2021).


Sementara itu aktivitas vulkanik Gunung Semeru terus terjadi. Pos Pengamatan Gunung Api memantau adanya satu kali awan panas guguran (APG) dengan jarak luncur 3.000 meter arah Besuk Kobokan dan satu kali APG dengan jarak luncur 200 meter arah Curah Kobokan.


”Aktivitas vulkanik Gunung Semeru masih berstatus level III atau Siaga, yang dinaikkan sejak 16 Desember 2021,” ujar Muhari.


Dengan kenaikan aktivitas vulkanik Gunung Semeru itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi memberikan sejumlah rekomendasi. Pertama, tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 km dari puncak (pusat erupsi).


Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan. Pasalnya, berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak.


Kedua, tidak beraktivitas dalam radius lima km dari kawah/puncak Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar). Selanjutnya, ketiga, mewaspadai potensi awan panas guguran, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru.


Terutama di sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan


Selain itu, Posko Darurat Semeru mencatat sebanyak 10.400 warga mengungsi di 406 titik pengungsian pada Senin (20/12/2021), pukul 18.00 WIB. Sebagian besar warga mengungsi dalam wilayah Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.


Titik pengungsian masih terpusat di tiga kecamatan. Yaitu, Kecamatan Candipuro 21 titik dengan 4.645 jiwa, Pasirian 17 titik 1.732 jiwa dan Pronojiwo 4 titik 1.077 jiwa.


Pos Komando (Posko) Penanganan Darurat Bencana Awan Panas dan Guguran Gunung Semeru terus memutakhirkan data warga mengungsi. Selain terpusat di tiga kecamatan, sebaran titik pengungsian lainnya berada di wilayah Kabupaten Lumajang, seperti Sumbersuko, Pasrujambe, dan Lumajang.


Titik pengungsian di luar Kabupaten Lumajang teridentifikasi di Kabupaten Malang 9 titik dengan total 341 jiwa, Blitar 1 titik 20 jiwa, Probolinggo 1 titik 11 jiwa dan Jember 3 titik 13 jiwa.


Memasuki minggu ketiga, Posko masih memfokuskan pada pemenuhan kebutuhan dasar para warga di titik-titik pengungsian, di antaranya makanan, kesehatan dan pendidikan.


”Posko secara pararel melakukan pembersihan lahan yang nantinya akan digunakan sebagai lokasi relokasi,” kata Muhari.


Kegiatan pembersihan area relokasi di Desa Sumber Mujur itu sudah mencapai 17 persen. Data sementara, total rumah rusak akibat awan panas guguran mencapai 1.027. Rinciannya, rumah rusak berat 505 unit di Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro. Sedangkan di Desa Supituriang, Kecamatan Pronojiwo, rumah rusak berat 437 unit dan rusak ringan 85 unit. ***