Gejolak Perang Israel-Iran, APBN Masih Aman Harga Minyak USD75
:
0
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung. Dok. Liputan6.com.
EmitenNews.com - Indonesia percaya diri menghadapi dampak ketegangan dari konflik yang dipicu serangan Israel-Amerika Serikat di Iran. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan ketahanan fiskal Indonesia masih cukup baik di tengah guncangan global akibat perang yang berkecamuk di Timur Tengah itu. APBN masih mampu menghadapi gejolak tekanan harga minyak sampai ke level USD75 per barel.
Dari hasil simulasi Kementerian Keuangan buat, potensi krisis berkepanjangan yang disebabkan konflik lintas negara di kawasan Timur Tengah itu tak akan membuat kondisi APBN mengalami tekanan defisit alias jebol. Terutama untuk menanggung beban subsidi BBM efek harga minyak naik.
Dalam keterangannya kepada pers, seperti dikutip Rabu (4/3/2026), Menkeu Purbaya mengemukakan dalam analisanya menghadapi kondisi saat ini, masih cukup baik. Jadi tidak ada masalah. Karena tax collection kita juga membaik, Januari-Februari 2026 tumbuhnya 30 persen.
“Itu angka yang signifikan sekali, artinya ada perbaikan yang signifikan di ekonomi dan perilaku orang-orang, pajak dan bea cukai," kata Menkeu Purbaya kepada pers, usai silaturahmi dan diskusi setelah buka bersama puasa Ramadan.
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menegaskan bahwa struktur APBN Indonesia dirancang cukup tangguh untuk merespons gejolak global. Termasuk eskalasi geopolitik yang berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dan memicu tekanan di pasar keuangan. Menurutnya, APBN didesain dengan tiga prinsip utama, yakni prudent, disiplin, dan fleksibel.
"APBN memang didesain pertama, prinsip prudent. Kemudian disiplin. Ketiga, fleksibel. Prudent dan disiplin, kita memastikan bahwa defisit di bawah 3 persen. Debt to GDP ratio sekitar 40 persen. Masih jauh lebih rendah dari di undang-undang 60 persen," kata mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia itu, Senin (2/3/2026).
Aspek fleksibilitas memberikan ruang bagi pemerintah untuk menggunakan cadangan fiskal dalam menghadapi gejolak global, baik yang berdampak pada sisi belanja maupun penerimaan negara.
Fleksibel artinya termasuk jika terjadi shock yang bersumber dari global. Maka ada buffer, ada cadangan fiskal yang dapat digunakan untuk memberikan bantalan terhadap gejolak-gejolak itu.
APBN masih mampu menghadapi gejolak tekanan harga minyak sampai ke level USD75 per barel
Wamenkeu Juda Agung mengatakan, dari hasil stress test Kementerian Keuangan, APBN masih mampu menghadapi gejolak tekanan harga minyak sampai ke level USD75 per barel.
Related News
Ingat, Telat Lapor SPT Badan, DJP Hapus Sanksi Hanya Sampai Akhir Mei
TLKM Telat Sampaikan Annual Report 2025 dan Kuartal I, Sampai Kapan?
Perang Bawa Harga Urea Melonjak, Ancam Inflasi Pangan
Probabilitas Resesi Indonesia di Bawah 5 Persen
Harga Minyak Seret Rupiah, Rupee dan Peso Filipina ke Rekor Terendah
Pastikan IEU-CEPA Bisa Berlaku 1 Januari 2027, Industri Senyum Lega





