EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin ditutup melemah 0,46 persen menjadi 7.559 setelah sempat melemah hingga level 7.511. Secara teknikal, histogram MACD IHSG masih berada di area positif, meski mulai terjadi penyempitan. Stochastic RSI masih berada di area overbought, dan melanjutkan penurunan ke arah pivot.

IHSG sudah menutup gap down di 7.527, dan masih bertahan di atas level 7.500. Sp, IHSG diperkirakan akan bergerak pada kisaran 7.500-7650. Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengaku masih akan membekukan rebalancing indeks saham Indonesia untuk periode Mei 2026.

Namun, MSCI tidak lagi menyinggung penurunan status pasar modal Indonesia ke frontier market. Kondisi tersebut mengurangi salah satu kekhawatiran investor. MSCI masih akan mengevaluasi konsistensi, dan efektivitas kebijakan baru. Terkhusus peningkatan transparansi data kepemilikan saham, dan kenaikan batas minimum free float menjadi 15 persen.

Investor juga mengantisipasi MSCI akan menghapus saham masuk kategori High Shareholding Concentration (HSC). Sehingga saham Barito Energy (BREN), Dian Swastatika (DSSA) berpotensi akan dikeluarkan dari MSCI Global Standard Indexes, namun hal ini sudah diantisipasi sebelumnya. MSCI akan memberi pengumuman  lebih lanjut pada Juni 2026.

Selain itu, investor akan mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) diperkirakan mempertahankan BI Rate di level 4,76 perssen. Kemudian, para pemodal juga akan menanti rilis data pertumbuhan kredit Maret 2026 diperkirakan melambat menjadi 7,5 persen dari Februari 2026 di level 9,37 persen.

Berdasar data dan fakta tersebut, Phintraco Sekuritas menyarankan para pelaku pasar untuk mengoleksi sejumlah saham potensial berikut. Yaitu, Bank Mandiri (BMRI), panta Indah Kapuk Dua (PANI), Petrosea (PTRO), Surya Semesta Internusa (SSIA), dan Azko (ACES). (*)