EmitenNews.com - Ini bukti dukungan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) terhadap Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 27 Tahun 2026 terkait ekosistem transportasi online. Salah satu langkah besar yang diambil Gojek adalah mengubah skema pembagian hasil layanan GoRide, menjadi 92 persen pendapatan perjalanan kini menjadi hak mitra pengemudi.

"Gojek akan menjalankan arahan Bapak Presiden terkait Perpres Nomor 27 Tahun 2026. Kami berkomitmen untuk menyesuaikan skema bagi hasil di mana 92 persen dari setiap perjalanan go-ride akan menjadi hak pengemudi,” kata Direktur Utama PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) Hans Patuwo dalam Konferensi Pers di kantor Gojek, Jakarta Selatan, Selasa (19/5/2026).

GOTO memastikan kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut langsung dari arahan Presiden untuk menciptakan ekosistem transportasi online yang lebih adil dan berkelanjutan. Meski berdampak terhadap penurunan pendapatan perusahaan, Gojek mengaku siap menjalankan kebijakan tersebut sebagai investasi jangka panjang.

Menurut Hans perubahan skema pembagian hasil tersebut menjadi tantangan besar bagi perusahaan. Selama ini, pendapatan Gojek dari layanan GoRide menjadi salah satu sumber bisnis utama perseroan.

“Ini perubahan cukup besar untuk kami. Pendapatan Gojek dari layanan go-ride yang selama ini banyak dikenal dengan nama Gojek akan mengalami penurunan,” ujarnya.

Tetapi, perusahaan memilih tetap menjalankan kebijakan tersebut dengan keyakinan dapat menciptakan hubungan yang lebih sehat antara platform dan mitra pengemudi. Kesejahteraan mitra pengemudi menjadi salah satu prioritas utama perusahaan di tengah berkembangnya industri transportasi online di Indonesia.

Tarif Layanan GoRide Reguler tidak Alami Kenaikan

Di tengah perubahan skema bagi hasil, Gojek memastikan tarif layanan GoRide reguler tidak mengalami kenaikan bagi konsumen. Ini dilakukan agar jumlah pesanan tetap stabil dan pendapatan total mitra pengemudi tetap terjaga.

Saat ini mayoritas pengguna masih menggunakan layanan GoRide reguler dibandingkan layanan GoRide Hemat. Karena itu, perusahaan memilih mempertahankan tarif reguler agar keterjangkauan layanan tetap terjaga.

“Penggunaan terbanyak saat ini ada di layanan go-ride reguler. Kami akan mengatur agar tidak ada perubahan harga yang dibayar konsumen untuk layanan go-ride reguler,” ujar Hans Purwo.