EmitenNews.com - Di tengah kepanikan harga yang tertahan di level gocap, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) mulai masuk dan berinvestasi di GOTO. Kabar ini sering dianggap oleh investor ritel sebagai "jurus selamat" yang akan menyapu bersih antrean jual dan menerbangkan harga saham.

Namun, ritel perlu segera bangun dari ilusi psikologis ini. Pemerintah melalui BPI Danantara memang telah mengonfirmasi bahwa mereka masuk ke GOTO, namun porsi kepemilikan mereka saat ini masih di bawah 1% dari total saham yang beredar. Pembelian ini dilakukan secara bertahap, dan dinyatakan bertujuan tidak hanya sebagai investasi finansial, tetapi juga untuk mendukung ekosistem transportasi online yang lebih berpihak kepada pengemudi.


  • Bukan Obat Kuat untuk Layar Antrean (Order Book

Mengingat total saham beredar GOTO mencapai angka raksasa 1.191.144.997.220 lembar, pembelian bertahap di bawah 1% ibarat setetes air di lautan. Uang dari Danantara ini tidak akan masuk seketika ke pasar reguler untuk menyapu bersih puluhan juta lot antrean jual di harga Rp50. Ritel yang mengira harga akan langsung naik esok hari hanya akan berujung pada tertahannya modal mereka lebih lama lagi.

Di sisi lain, porsi saham yang beredar bebas di publik (Free Float) masih sangat membengkak di angka 71,44% (setara 850,9 miliar lembar). Secara logika matematis, angka free float yang kelewat gemuk ini adalah mimpi buruk likuiditas. Dari 850,9 miliar lembar saham yang berserakan di pasar inilah, ratusan ribu investor "ritel unyu" berada di dalamnya dan kini resmi tersandera. 

Ketika institusi raksasa membuang barang akibat rebalancing indeks, ritel-lah yang tanpa sadar menampungnya. Kini, dengan harga yang membeku di Rp50 dan antrean jual (Offer) yang mengular hingga puluhan juta lot, para ritel ini tidak bisa ke mana-mana. Modal mereka terkunci rapat tanpa bisa melakukan cut loss, tenggelam di bawah tumpukan pasokan saham raksasa.

Mengingat total saham beredar GOTO mencapai angka 1.191.144.997.220 lembar, pembelian bertahap di bawah 1% ibarat setetes air di lautan. Uang dari Danantara ini dipastikan tidak akan masuk seketika ke pasar reguler untuk menyapu bersih antrean jual Anda. Ritel yang mengira harga akan langsung terbang esok hari hanya akan berujung pada tertahannya modal mereka lebih lama lagi

  • Sisi Positif Sosial vs. Kontradiksi Peran Sovereign Wealth Fund

Secara sosial, niat negara untuk hadir dan memastikan kesejahteraan pengemudi (pekerja gig) patut diapresiasi. Namun, jika dibedah menggunakan prinsip dasar (first principles), langkah ini menjadi sangat kontraproduktif.

Danantara didirikan sebagai Sovereign Wealth Fund (SWF), sebuah lembaga pengelola investasi negara yang tugas dan DNA utamanya adalah mencetak profit dan melipatgandakan kekayaan negara. Danantara bukanlah lembaga bantuan sosial. 

Menggunakan dana investasi negara untuk menjalankan agenda rekayasa sosial (subsidi kesejahteraan driver) akan mengaburkan indikator kinerja utama (KPI) lembaga tersebut dan mempertaruhkan modal negara pada investasi yang tidak memprioritaskan imbal hasil komersial.

  • GOTO Adalah Perusahaan Swasta, Bukan BUMN

Dari sisi bisnis, kita harus ingat bahwa GOTO adalah perusahaan swasta murni yang melantai di bursa, bukan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). BUMN wajar jika diberikan tugas melayani kepentingan umum (Public Service Obligation/PSO) meski harus merugi.