GOTO Dicoret Indeks Utama MSCI, Kenapa BEI Justru Pertahankan di LQ45?
:
0
GOTO Dicoret Indeks Utama MSCI, Kenapa BEI Justru Pertahankan di LQ45? Dok. IDX Channel
EmitenNews.com - Pengumuman evaluasi indeks dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) periode Agustus 2026 memicu perdebatan hangat di kalangan pelaku pasar modal tanah air. Penyedia indeks global tersebut memutuskan untuk mencoret penuh (full deletion) saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dari seluruh daftar indeksnya.
Sebaliknya, Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam evaluasi terbarunya justru memilih untuk mempertahankan GOTO di jajaran indeks saham paling likuid seperti LQ45, IDX30, dan IDX80. Perbedaan perlakuan yang kontras ini memperlihatkan adanya jurang metodologi yang mendasar antara kriteria keterlibatan pasar acuan global dan pengelola bursa domestik.
Benturan Cara Pandang: Replikasi Real-Time vs Inersia Historis BEI
Perbedaan keputusan ini bersumber dari filosofi perhitungan yang digunakan kedua lembaga. Bursa Efek Indonesia mengandalkan pendekatan rekam jejak jangka panjang (trailing average) untuk menilai tingkat likuiditas sebuah emiten. Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Irvan Susandy, menjelaskan bahwa penilaian konstituen tidak hanya mengacu pada data transaksi satu atau dua bulan terakhir, melainkan rata-rata keaktifan perdagangan selama 6 hingga 12 bulan ke belakang.
"Liquidity-nya kayaknya enggak dihitung cuma sebulan-dua bulan. Kayaknya average (rata-rata) 6 atau 12 bulan terakhir sebelum evaluasi. Kita tidak melakukan perubahan di perhitungan kuantitatif indeks konstituen. Jadi kalau dia (GOTO) masih ada, berarti mungkin di bulan-bulan sebelumnya memang liquidity-nya masih kencang," terang Irvan di Gedung BEI, Jakarta (28/7/2026).
BEI menggambarkan perhitungan ini mirip dengan Rata-Rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) bursa tahunan yang tetap tinggi di angka Rp22 triliun karena tertopang oleh tingginya volume transaksi pada awal tahun. Meskipun aktivitas perdagangan belakangan ini cenderung melandai, peninggalan transaksi besar di masa lalu tetap menjaga statistik GOTO memenuhi syarat kuantitatif untuk bertahan di papan utama bursa.
Metodologi BEI: Risiko Inersia Indeks dan Likuiditas Semu
Secara analitis, penggunaan data historis 6 hingga 12 bulan oleh BEI memang dirancang untuk menjaga stabilitas portofolio acuan agar tidak terjadi bongkar-pasang saham (index turnover) yang terlalu sering dalam jangka pendek. Namun, dari kacamata efisiensi pasar, metodologi ini menyimpan kelemahan struktural berupa keterlambatan tanggapan (lagging effect).
Ketika sebuah saham mengalami penurunan likuiditas secara mendadak akibat tertahan di batas harga terendah (price floor) Rp50 per saham, metodologi trailing average gagal mencerminkan risiko likuiditas riil secara real-time.
Saham yang secara fisik di pasar reguler mengalami kemacetan transaksi seolah "terlindungi" oleh angka statistik masa lalu yang sudah tidak relevan lagi. Akibatnya, indeks acuan seperti LQ45 berisiko memuat "likuiditas semu", di mana konstituen yang tercatat likuid secara kertas kerja justru sulit ditransaksikan secara nyata oleh investor di papan reguler. Padahal, evaluasi indeks mayor seperti LQ45 rutin dilakukan per 3 bulan.
Related News
Kocok Ulang Saham MSCI Indonesia: Dibuang 10, Sisa 44 Konstituen
Indeks Utama MSCI Saham Singapura vs Indonesia: Siapa Numpang Siapa?
Dibuang 3, Sisa 1 Anak Emas Prajogo di MSCI Global Standard Index
Emiten Jagoan Bakrie di Indeks Utama MSCI Labanya Tertekan 43%
Profit BUMI Melesat 188%, Berkah Pasar Lokal & Efek Transaksi Jhonlin
Lolos Evaluasi LQ45 Lagi, Cek Rapor Terbaru DEWA Grup Bakrie





