EmitenNews.com - Harga emas dunia bergerak melemah mendekati level USD4.150 per ons pada Selasa (13/10). Penurunan ini mencatatkan koreksi selama dua sesi berturut-turut akibat lonjakan mata uang dolar AS ke level tertinggi dalam 18 bulan terakhir.

Penguatan mata uang Paman Sam terjadi menjelang rilis laporan data inflasi penting di AS yang diperkirakan bakal memengaruhi arah kebijakan suku bunga acuan bank sentral AS, Federal Reserve. Indeks Harga Konsumen (CPI) AS dijadwalkan rilis pada Rabu, dilanjutkan dengan data inflasi tingkat produsen (PPI) pada Kamis.

Bagi pasar keuangan Indonesia, penurunan harga emas global ini berpotensi memengaruhi pergerakan harga emas batangan domestik seperti emas Antam serta menjadi pertimbangan bagi investor logam mulia di dalam negeri.

Pasar saat ini memperkirakan sekitar 80 persen probabilitas Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga acuan pada bulan ini. Selain itu, pelaku pasar memperkirakan peluang sebesar 88 persen terjadinya kenaikan suku bunga pada bulan Desember mendatang.

Di sisi lain, investor global terus memantau eskalasi ketegangan geopolitik setelah AS mempertimbangkan untuk bergabung dengan Arab Saudi dalam kampanye militer melawan militan Houthi di Yaman. Pada saat bersamaan, pelanggaran kesepakatan gencatan senjata energi antara Rusia dan Ukraina turut memicu kenaikan harga minyak mentah dunia.

Kenaikan harga energi tersebut memperkuat kekhawatiran inflasi global yang berujung pada ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan.

Perkembangan inflasi dan suku bunga AS ini berisiko memicu tekanan terhadap pergerakan nilai tukar rupiah serta harga aset aman di pasar domestik. Pelaku pasar di Indonesia kini mencermati arah kebijakan moneter global serta pergerakan komoditas energi untuk mengantisipasi dampaknya terhadap pasar keuangan nasional.(*)