EmitenNews.com - Harga minyak mentah dunia bergerak stabil pada perdagangan Kamis (1/10/2026) setelah mencatatkan kenaikan pada sesi sebelumnya. Minyak mentah jenis Brent bertahan di atas level USD97 per barel, sementara jenis WTI diperdagangkan stabil di atas USD90 per barel.

Pergerakan harga komoditas energi ini dipengaruhi oleh kalkulasi investor atas tanda-tanda pemulihan aliran pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah, di tengah kebuntuan negosiasi diplomatik yang masih berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran.

Laporan Trading Economics pada Kamis (1/10/2026) mencatat bahwa pengiriman minyak mentah dari kawasan Timur Tengah mulai mendekati level sebelum konflik. Kondisi ini didorong oleh langkah Arab Saudi yang berhasil memulihkan setengah dari kapasitas pipa minyak utama jalur Timur-Barat. Selain itu, arus lalu lintas pengiriman minyak melalui Selat Hormuz dilaporkan meningkat hingga menyentuh 13,2 juta barel per hari.

Kendati aliran pasokan menunjukkan perbaikan, pasar energi global tetap mencermati keberlanjutan pemulihan tersebut selama belum tercapai kesepakatan permanen untuk mengakhiri konflik. Teheran dan Washington hingga kini masih saling mengklaim kendali penuh atas jalur perairan strategis tersebut.

Di sisi lain, respons diplomasi mulai menunjukkan perkembangan. Juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, mengatakan Teheran telah menerima proposal AS mengenai pembukaan kembali selat tersebut.  Dari sisi pasokan organisasi produsen, aliansi OPEC+ diperkirakan akan mempertahankan kuota produksi untuk bulan November tanpa perubahan pada pertemuan akhir pekan ini.

Tingginya harga minyak dunia di kisaran USD90 hingga USD97 per barel berpotensi meningkatkan beban subsidi energi APBN serta membayangi nilai tukar rupiah akibat peningkatan biaya impor minyak mentah (crude oil) nasional.(*)