Harga Minyak Melonjak, Tiga Saham Komoditas Ini Masih Diminati Asing
:
0
Dump truck PT Indo Tambangraya Megah Tbk
EmitenNews.com - Lonjakan harga minyak mentah global di atas USD100 per barel mulai mengubah peta investasi di pasar saham. Di tengah meningkatnya risiko geopolitik global, saham berbasis komoditas dinilai berpotensi menjadi penopang pasar sekaligus pilihan defensif bagi investor.
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan kenaikan harga minyak dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah yang meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global.
Harga minyak Brent bahkan melonjak sekitar 35% dalam sepekan dan telah menembus level USD100 per barel, seiring meningkatnya risiko gangguan jalur tanker energi di Selat Hormuz.
“Level harga minyak saat ini mencerminkan premi risiko geopolitik yang besar. Jika gangguan pasokan berlangsung lebih lama, harga minyak bisa bertahan di atas USD100 per barel lebih lama dan berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global,” ujar Rully.
Lonjakan harga energi tersebut juga berpotensi menahan penurunan suku bunga global serta menekan pasar saham, termasuk di emerging markets seperti Indonesia.
Dalam kondisi volatilitas global yang meningkat, sejumlah saham komoditas masih mencatat minat beli investor asing, di antaranya Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), Bukit Asam Tbk (PTBA), dan Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).
Senior Research Analyst Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Farras Farhan, menilai sektor batu bara masih memiliki ketahanan relatif di tengah siklus penurunan harga komoditas.
Dalam risetnya, kinerja Indo Tambangraya Megah Tbk tercatat lebih kuat pada kuartal IV 2025 dengan pendapatan mencapai USD512 juta. Kinerja tersebut didukung peningkatan volume penjualan menjadi 6,8 juta ton serta kenaikan harga jual rata-rata menjadi USD75 per ton.
Menurut Farras, disiplin biaya dan efisiensi operasional menjadi kunci bagi emiten tambang untuk menjaga profitabilitas di tengah fluktuasi harga komoditas.
Ia menambahkan, sektor komoditas berpotensi menjadi penopang pasar saham domestik ketika volatilitas global meningkat karena memiliki arus kas yang relatif kuat serta masih didukung permintaan global.
Related News
LABA Terus Jualan Saham KRYA, Nilainya Tembus Rp6,63M di April 2026
Penjualan CLEO Meningkat 15,8 Persen Q1-2026, Tiga Pabrik Baru Dikebut
Kinerja Chitose (CINT) Tumbuh di Q1-2026, Target Segini di Akhir Tahun
Turnaround ICON dari Rugi Beruntun Jadi Laba Rp5,87 Miliar di 2025
GOTO Respons Perpres Ojol, Danantara Bakal Jadi Pemegang Saham?
Pendapatan Tertekan, Laba PTBA Justru Mengganda 104,81 Persen!





