EmitenNews.com - Harga minyak yang sangat fluktuatif berimbas pada melemahnya nilai tukar (kurs) rupiah pada penutupan perdagangan hari ini, Jumat (29/5/2026). Kurs rupiah melemah 35 poin atau 0,20 persen jadi Rp17.881 per dolar AS, dari sebelumnya Rp17.846.

Dalam keterangan tertulis, Jumat, pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan ini disebabkan harga minyak yang sangat fluktuatif. Harga minyak tetap sangat fluktuatif dalam beberapa sesi terakhir.

“Pasar bereaksi terhadap berita utama yang saling bertentangan seputar negosiasi gencatan senjata,” katanya.

Sentimen pasar sempat membaik pasca muncul laporan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah mencapai draf kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari, di tengah negosiasi terus berlanjut membahas mengenai program nuklir Iran dan isu-isu keamanan regional.

Prospek gencatan senjata ini mengurangi kekhawatiran atas kekurangan pasokan langsung dan mendukung harapan bahwa aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz dapat secara bertahap kembali normal. Namun, lalu lintas melalui jalur air strategis tersebut tetap jauh di bawah tingkat sebelum konflik, sehingga premi risiko geopolitik tetap berdampak ke pasar minyak.

Kemudian, sentimen lain berasal dari data-data ekonomi AS seperti inflasi dan pertumbuhan yang tak sesuai perkiraan turut memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve mungkin akan mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama.

Dari domestik, kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang menahan suku bunga di level tinggi memicu larinya arus modal asing (capital outflow) dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Ibrahim menyebutkan, investor cenderung memindahkan asetnya ke instrumen berisiko rendah di AS (seperti obligasi) yang menawarkan imbal hasil lebih menarik. ***