EmitenNews.com - PT Pupuk Indonesia Group memiliki piutang ke pemerintah sebesar Rp21,78 triliun. Piutang tersebut terutama berasal dari perhitungan tagihan subsidi atas penyaluran periode berjalan sampai dengan Juni 2026.

Dalam keterbukaan informasi yang dipublikasikan Bursa Efek Indonesia (BEI), Sabtu (1/8/2026), Direktur Keuangan PT Pupuk Indonesia (Persero) Wono Budi Tjahyono menyatakan peningkatan piutang pemerintah itu membuat total aset BUMN pupuk ini per 30 Juni 2026 naik.

Wono Budi merinci total aset Pupuk Indonesia mengalami peningkatan sebesar Rp31,87 triliun atau setara 21,22% dari tahun sebelumnya. Perubahan tersebut sebagian besar dikontribusikan piutang subsidi dari pemerintah, terdapat perubahan mekanisme pengelolaan subsidi menjadi menggunakan skema Marked to Market (MTM) dengan perhitungan subsidi berbasis pada nilai komersial.

“Peningkatan kas setara kas sebesar Rp10,76 triliun berasal dari penerimaan uang muka subsidi bahan baku pupuk, yang diterima pada Bulan Maret 2026 sebesar Rp20,58 triliun,” ujar Wono Budi.

Sementara itu, total liabilitas mengalami peningkatan sebesar Rp24,64 triliun atau setara dengan 52,73% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Perubahan tersebut sebagian besar dikontribusikan oleh beberapa hal berikut.

“Terdapat saldo uang muka bahan baku pupuk bersubsidi sebesar Rp14,40 triliun yang diberikan oleh Pemerintah Indonesia sejak bulan Maret 2026,” katanya.

Peningkatan utang usaha sebesar Rp1,14 triliun disebabkan karena aktivitas pembelian bahan baku pupuk dan non-pupuk guna menunjang operasional bisnis Perusahaan juga memuat liabilitas terkerek.

Liabilitas Pupuk Indonesia juga naik karena peningkatan utang pajak sebesar Rp1,78 triliun disebabkan oleh nilai estimasi Pajak Badan PPh Pasal 25/29 sejalan dengan pencapaian laba secara konsolidasi yang meningkat 253% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara peningkatan utang lainnya yang berasal dari pengakuan utang dividen kepada Pemegang Saham berdasarkan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham ("RUPS") Perusahaan tanggal 30 Juni tahun 2026 sebesar Rp1,39 triliun yang akan dilunasi pada akhir Juli 2026 ikut pula mendorong liabilitas.

Dan liabilitas Pupuk Indonesia naik karena peningkatan pinjaman bank sebesar Rp5,71 triliun yang digunakan untuk pendanaan investasi pengembangan dan modal kerja di Anak Perusahaan.

“Perubahan Aset dan liabilitas tersebut sejalan dengan perkembangan operasional dan memberikan dampak positif pada kinerja dan posisi keuangan Perusahaan,” ujar Wono Budi.