Houthi Serang Pipa Utama Aramco, Pasokan Minyak Global Terancam
:
0
Harga minyak mentah dunia bertahan di level tertinggi dalam lebih dari empat bulan pada Rabu.(Foto: Magnific)
EmitenNews.com - Harga minyak mentah dunia bertahan di level tertinggi dalam lebih dari empat bulan pada Rabu. Ketegangan geopolitik yang memicu gangguan pasokan di Timur Tengah dan Eropa Timur menjadi pendorong utama lonjakan harga ini.
Berdasarkan data Trading Economics, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bertahan di atas USD105 per barel. Sementara itu, minyak mentah jenis Brent kokoh di atas USD108 per barel.
Arab Saudi dilaporkan membatalkan sejumlah pengiriman minyak setelah serangan pesawat tak berawak (drone) memaksa penutupan pipa Timur-Barat. Pemerintah Arab Saudi juga telah memberi tahu para pelanggan di Eropa mengenai pembatalan beberapa pengiriman untuk alokasi bulan September.
Hingga saat ini, belum ada kepastian mengenai waktu pengoperasian kembali pipa utama tersebut. Pipa Timur-Barat merupakan rute krusial yang menjadi jalur alternatif pengiriman minyak di sekitar Selat Hormuz. Ketidakpastian ini meningkat setelah militan Houthi yang didukung Iran memperbarui serangan mereka ke wilayah Arab Saudi pekan ini.
Gangguan pasokan global juga diperparah oleh situasi di Afrika Utara. Di Libya, perusahaan minyak nasional setempat menangguhkan operasional di dua ladang minyak dan satu stasiun pemompaan akibat aksi protes yang terus berlangsung.
Di Eropa Timur, konflik bersenjata terus menyasar fasilitas energi. Rusia melaporkan serangan terhadap stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kyiv, sedangkan Ukraina menargetkan kilang minyak milik Rusia. Serangan tetap terjadi meski Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim kedua belah pihak telah sepakat menghentikan pengrusakan infrastruktur energi.
Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak mentah dunia ini berpotensi menekan beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), khususnya pada alokasi subsidi dan kompensasi energi. Lonjakan harga ICP (Indonesian Crude Price) yang melampaui asumsi makro berisiko memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di dalam negeri serta memperlebar defisit transaksi berjalan.(*)
Related News
Yield AS Tembus Rekor 2007, Tekan Harga Emas
Takdir Rupiah di Era Menkeu Suahasil, Mampu Menguat?
Pasar Harap-Harap Cemas Tunggu Fed, Saham AS Naik Tipis
Utang Luar Negeri Era Prabowo Naik, Kesehatan dan Sosial Terbesar
MoU Varnion-Omada, Perkuat Riset Pengembangan Menuju Era Wi-Fi 8
Garuda Metalindo (BOLT) Bagikan Kabar Duka, Komisaris Utama Tutup Usia





