Takdir Rupiah di Era Menkeu Suahasil, Mampu Menguat?
:
0
Menteri Keuangan Suahasil gantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Foto: Kemenkeu
EmitenNews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di rentang Rp17.690 hingga Rp17.750 pada perdagangan Rabu (16/9).
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa gejolak yang terjadi di Timur Tengah masih menjadi salah satu sentimen melemahnya rupiah. Di mana pada perdagangan sebelumnya, rupiah merosot 25 poin ke level Rp17.694.
Ibrahim menuturkan, kelompok Houthi di Yaman yang beraliansi dengan Iran melancarkan serangan lanjutan ke Arab Saudi. Di samping itu, polemik Selat Hormuz, Iran menyatakan tidak akan ada dialog denagn AS sampai syarat-syarat mereka terpenuhi.
“Presiden AS Donald Trump pada hari Senin kembali melontarkan klaim yang sering ia sampaikan bahwa Iran sedang mengupayakan kesepakatan damai. Namun, Teheran membantah klaim Trump tersebut dan menyatakan bahwa tidak akan ada pembicaraan sampai syarat-syarat mereka dipenuhi, terutama tuntutan agar AS mematuhi ketentuan gencatan senjata bulan Juni yang kini sudah tidak berlaku lagi,” kata Ibrahim, Selasa (15/9).
Sementara dari sisi domestik, Ibrahim menilai Menteri Keuangan Suahasil Nazara adalah sosok tepat menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Menurutnya, penunjukkan Suahasil disebut akan memperkuat kepercayaan terhadap disiplin fiskal dan kerangka defisit di bawah 3%.
“Akan tetapi, tantangan yang menunggu Suahasil sejatinya jauh lebih besar daripada sekadar menjaga angka defisit. Sebab, beliau harus mengelola APBN di tengah kebutuhan pemerintah untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, membiayai program prioritas, menghadapi tekanan harga energi global, sekaligus mempertahankan kepercayaan investor terhadap kesehatan fiskal Indonesia. Pemerintah memiliki ambisi pertumbuhan cukup tinggi,” tutur Ibrahim.
Dalam RAPBN 2027, pertumbuhan ekonomi ditargetkan mencapai 6%, sementara belanja negara mencapai Rp4.097,2 triliun. Pendapatan negara ditargetkan Rp3.426 triliun, sehingga pembiayaan mencapai Rp571,2 triliun dengan defisit 2,4% dari PDB.
“Angka-angka itu sebenarnya sudah menunjukkan dilema yang akan dihadapi Suahasil. Di satu sisi, pemerintah ingin menggunakan APBN sebagai mesin pertumbuhan sehingga belanja harus cukup besar untuk mendorong konsumsi, investasi, pembangunan infrastruktur, perlindungan sosial, serta berbagai program prioritas pemerintah,” pungkas Ibrahim.
Related News
Harga Minyak Melambung, Laba Chevron Melesat Tiga Kali Lipat
Di Luar Dugaan, PMI Manufaktur & Jasa China Anjlok
Sokong PLTS 100 GWp, Kemnaker Sertifikasi 60 Asesor
Pajak Digital Tembus Rp58,75 Triliun, PMSE Jadi Penyumbang Terbesar
Stok Afrika Melimpah, HR Biji Kakao Drop ke USD 5.613,6
Sawit Anjlok, HR CPO November Dipangkas 6,07 Persen





