EmitenNews.com - Raksasa energi asal Amerika Serikat, Chevron Corporation, membukukan kenaikan laba bersih hingga hampir tiga kali lipat menjadi USD9,9 miliar pada kuartal ketiga tahun 2026. Menurut OilPrice.com melonjaknya keuntungan perusahaan migas ini didorong oleh margin bisnis penyulingan serta naiknya harga minyak mentah di pasar global.

Chevron melaporkan laba sebesar USD5,06 per saham, naik dari USD1,82 pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba yang disesuaikan mencapai USD10,4 miliar atau USD5,28 per saham, melampaui estimasi pasar sebesar USD4,89 per saham.

Operasi sektor hilir Chevron menyumbang pendapatan sebesar USD4,93 miliar, melesat dari USD1,14 miliar pada kuartal ketiga tahun lalu. Di wilayah Amerika Serikat, kilang minyak Chevron beroperasi pada kapasitas 98 persen dengan memproses rekor 1,09 juta barel per hari, sehingga keuntungan penyulingan domestiknya melonjak dari USD638 juta menjadi USD3,59 miliar.

Kinerja bisnis penyulingan tersebut terdampak oleh gangguan sekitar 10 persen kapasitas produksi bahan bakar global akibat konflik di Timur Tengah serta serangan terhadap fasilitas migas di Rusia. Kondisi pasokan ketat ini melipatgandakan keuntungan hilir Chevron meskipun volume penjualan bahan bakar relatif stabil di angka 1,3 juta barel per hari.

Di sektor hulu, kenaikan harga rata-rata minyak mentah jenis Brent menjadi USD97 per barel dari USD69 per barel pada tahun lalu mendorong pendapatan hulu naik menjadi USD5,7 miliar. Meski begitu, total produksi global Chevron tercatat turun dari 4,09 juta menjadi 3,98 juta barel setara minyak per hari akibat gangguan operasional regional.

Sepanjang kuartal ketiga 2026, Chevron mencetak arus kas operasional sebesar USD16 miliar dan arus kas bebas USD12 miliar. Perseroan memanfaatkannya untuk memangkas utang sebesar USD3,5 miliar serta melanjutkan program pembelian kembali saham senilai USD2,5 miliar. Selain itu, Chevron merencanakan investasi usaha patungan senilai USD7 miliar di Venezuela selama lima tahun ke depan guna melipatgandakan kapasitas produksi di wilayah tersebut.

Lompatan kinerja produsen migas global seperti Chevron menjadi sinyal penting bagi industri energi dan pelaku pasar di Indonesia terkait masih tingginya volatilitas harga serta margin kilang minyak dunia.(*)