EmitenNews.com - Kontrak berjangka saham Amerika Serikat (AS) bergerak naik tipis pada Rabu. Pergerakan ini terjadi saat para investor menantikan keputusan kebijakan moneter terbaru dari bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

Pasar memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya dalam kurun waktu sekitar tiga tahun terakhir. Selain keputusan utama, para pelaku pasar juga mencermati panduan terkait potensi kenaikan suku bunga lanjutan pada Oktober atau Desember mendatang.

Pergerakan di pasar berjangka ini menyusul pelemahan di perdagangan reguler pada Selasa. Trading Economics mencatat Indeks Dow Jones tercatat turun 0,3 persen, S&P 500 melemah 0,45 persen, dan Nasdaq Composite terkoreksi 0,78 persen. Kenaikan harga minyak dunia serta lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS menjadi penekan utama pergerakan saham.

Pelemahan meluas hingga ke sektor teknologi, terutama pada perusahaan yang sensitif terhadap biaya pinjaman. SahamAlphabet melemah 1,3 persen, Microsoft turun 1,6 persen, Oracle merosot 3,1 persen, dan Amazon tergerus 2 persen.

Selain tekanan suku bunga, pelaku pasar menyoroti masalah keamanan pengembangan teknologi Artificial Intelligence (AI). Namun, Chief Executive Officer (CEO) Nvidia, Jensen Huang, menegaskan bahwa regulasi keamanan tambahan untuk AI tidak diperlukan.

"Kekuatan pasarlah yang akan mendorong perusahaan-perusahaan untuk terus berinovasi secara aman," kata Huang.

Sinyal kenaikan suku bunga acuan The Fed ini membawa sentimen negatif terhadap pasar keuangan domestik. Kebijakan ketat bank sentral AS berisiko memicu aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar saham dan Surat Berharga Negara (SBN). Kondisi ini berpotensi menekan pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS serta membuka peluang bagi Bank Indonesia untuk menyesuaikan suku bunga acuan BI-Rate guna menjaga stabilitas ekonomi nasional.(*)