IHSG Awal Pekan Melorot 1,25 Persen, DSSA Hingga BREN Terseok
Potret penutupan IHSG pekan lalu (2/4/2026). Foto: EmitenNews/Aji.
EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka ambruk pada awal perdagangan Senin (6/4/2026), mencerminkan tekanan berlanjut dari kombinasi sentimen global dan domestik. Indeks turun 1 persen ke level 6.945,97. 10 menit pembukaan berselang berlanjut turun 1,25 persen di 6.938,66 setara 88,12 poin.
Pada pembukaan, sebanyak 345 saham melemah, 165 saham menguat, dan 448 saham bergerak stagnan. Nilai transaksi tercatat Rp355,2 miliar dengan volume 633,4 juta saham dan frekuensi 78.260 kali transaksi. Kapitalisasi pasar turut menyusut menjadi Rp12.112 triliun.
Tekanan ini melanjutkan pelemahan tajam pada perdagangan sebelumnya, di mana IHSG ditutup turun 2,2 persen ke level 7.026. Investor asing juga mencatatkan aksi jual bersih sekitar Rp813,51 miliar, terutama pada saham perbankan besar seperti BBRI dan BMRI, sementara BBCA justru mencatat net buy.
Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto pada Senin (6/4/2026), menyebut pelemahan pasar dipicu oleh kombinasi faktor makro, mulai dari harga minyak yang melonjak hingga perlambatan aktivitas manufaktur domestik.
Harga minyak mentah global tercatat berada di atas USD110 per barel, dengan WTI diperdagangkan di kisaran USD111,54. Lonjakan ini meningkatkan risiko terhadap inflasi dan beban subsidi energi dalam APBN.
Di sisi domestik, aktivitas manufaktur menunjukkan pelemahan. Indeks PMI Indonesia turun ke level 50,1 pada Maret 2026 dari sebelumnya 53,8, menjadi level terendah sejak September 2025. Kondisi ini berpotensi menekan ekspektasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2026.
Dari sisi kebijakan, revisi aturan free float minimum oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi 15 persen juga dinilai menjadi tekanan tambahan, terutama bagi emiten dengan porsi saham publik rendah seperti MYOR, BREN, dan GEMS.
Begitupun, High Shareholding Concentration (HSC) atau saham dengan konsentrasi kepemilikan afiliasi tinggi yang menyeret sederet emiten besar seperti BREN, DSSA, hingga yang baru saja IPO yakni, RLCO.
DSSA terpantau anjlok ke palung dasar 14 persen di Rp60.525 dari harga opening Rp70.375 per saham, serta BREN yang terseret hingga 13,12 persen di Rp4.170 dari sebelumnya Rp4.800.
Secara teknikal, analis Muhammad Nafan Aji menilai IHSG berada dalam fase bearish consolidation dengan level support di 6.892 dan 7.005 serta resistance di 7.117 dan 7.222.
Dari aliran dana asing, saham-saham yang mencatat pembelian bersih terbesar antara lain BBCA, ADRO, AADI, BUMI, dan INDF. Sementara tekanan jual terbesar terjadi pada BBRI, BMRI, DEWA, ANTM, dan PTRO.
Related News
IHSG Lesu di Sesi I (6/4) Drop 0,79 Persen di 6.971
Percepatan Pengembangan Lapangan Migas Makin Mendesak
Gobel Yakinkan Investasi Jepang di Indonesia Tidak Main-Main
Komdigi: Rating Gim di Steam Bukan Klasifikasi Resmi Pemerintah
Astra Siap Bangun 1.000 Unit Rusun Di Atas Lahan BUMN
Kemnaker Buka Sertifikasi Batch Kedua, Siapkan 2.100 Ahli K3





