EmitenNews.com - Mirae Asset Sekuritas Indonesia memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berpotensi melanjutkan koreksi pada perdagangan Kamis (9/7/2026). Secara teknikal, reli penguatan indeks dinilai mulai tertahan di level resistance Fibonacci Retracement (FR) 61,8% sehingga membuka ruang pelemahan lanjutan.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, mengatakan IHSG membentuk pola downward bar setelah gagal menembus area resistance. Indikator Relative Strength Index (RSI) juga menunjukkan sinyal negatif yang diikuti penurunan volume transaksi, meski indikator Stochastics K_D masih memberikan sinyal positif.

"Dinamika pergerakan IHSG diperkirakan didominasi oleh sentimen negatif dengan kecenderungan melanjutkan koreksi," ujar Nafan dalam riset hariannya, Kamis (9/7).

Menurutnya, salah satu sentimen yang membebani pasar adalah keputusan S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) yang memasukkan Indonesia ke dalam watchlist reklasifikasi pasar untuk 2027. Dalam jangka pendek, keputusan tersebut diperkirakan memberikan tekanan terhadap sentimen investor di pasar saham domestik.

Meski demikian, Nafan menilai langkah S&P DJI tersebut dapat menjadi momentum bagi regulator untuk mempercepat reformasi pasar modal.

"Namun dalam jangka menengah, keputusan ini menjadi dorongan bagi OJK maupun SRO untuk mempercepat reformasi pasar modal, seperti peningkatan transparansi, likuiditas, free float, dan kemudahan akses bagi investor institusi global. Hal ini bertujuan agar Indonesia tidak berpotensi mengalami kehilangan status pasar berkembang (emerging market)," katanya.

Dari dalam negeri, pelaku pasar juga menantikan rilis data penjualan ritel Indonesia periode Mei 2026. Mirae Asset memperkirakan pertumbuhan penjualan ritel mencapai 2% secara tahunan, berbalik dari kontraksi 3,7% pada periode sebelumnya.

Perbaikan tersebut diperkirakan ditopang oleh meningkatnya konsumsi masyarakat selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), seperti Hari Kenaikan Yesus Kristus, Waisak, dan Idul Adha. Data tersebut dinilai menjadi indikator penting bagi prospek sektor consumer cyclicals maupun consumer non-cyclicals di tengah konsolidasi IHSG.

Sementara dari eksternal, eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi faktor yang membayangi pergerakan pasar global. Pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai berakhirnya gencatan senjata dengan Iran meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah dan memicu kenaikan harga minyak dunia akibat potensi gangguan pasokan melalui Selat Hormuz.

Menurut Nafan, kondisi tersebut mendorong investor beralih ke aset safe haven, termasuk dolar AS, sehingga menekan nilai tukar rupiah yang terdepresiasi 0,19% ke level Rp18.014 per dolar AS.