IHSG Bertabur ATH, Investor Tunggu Prabowo Buka Perdagangan 2026
:
0
Suasana penutupan perdagangan di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Selasa, 30 Desember 2025. FOTO - ISTIMEWA
EmitenNews.com - Pembukaan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) awal tahun selalu menjadi momen spesial, dan perhatian pelaku pasar. Selain menandai kick-off aktivitas perdagangan tahun berjalan, agenda ini kerap dimaknai sebagai refleksi perhatian, dan dukungan pemerintah terhadap industri pasar modal nasional.
Pada pembukaan perdagangan BEI 2025 lalu, Presiden Prabowo Subianto tidak hadir, dan diwakili Menteri Keuangan Sri Mulyani. Namun demikian, pasar modal Indonesia justru mencatat kinerja solid sepanjang 2025. Itu dibuktikan dengan penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara signifikan hingga beberapa kali menembus rekor tertinggi sepanjang masa.
Pergerakan indeks ditutup menguat 22,10 persen secara year-to-date pada level 8.644,26 pada Senin, 29 Desember 2025. Sebelumnya, pada Senin, 8 Desember 2025, indeks bahkan menorehkan rekor All Time High (ATH) di level 8.710,69. Penguatan tersebut diiringi peningkatan partisipasi investor, dan likuiditas transaksi. Itu merefleksikan optimisme pelaku pasar terhadap prospek pasar modal Indonesia.
Di tengah kinerja pasar menguat itu, analis pasar modal Hans Kwee mengatakan kehadiran pejabat negara dalam seremoni pembukaan perdagangan memiliki makna simbolik. Menurut Hans, secara langsung kehadiran Presiden Prabowo atau pejabat tinggi negara bukan faktor utama penentu pergerakan indeks, namun dapat mencerminkan dukungan, dan perhatian pemerintah terhadap pasar modal.
“Kehadiran Presiden (Prabowo Subianto) itu menunjukkan concern pemerintah terhadap industri keuangan, terutama pasar modal, meski memang arah pasar tetap lebih ditentukan oleh fundamental ekonomi, valuasi saham, sentimen global, dan domestik,” tegas Hans kepada media.
Lebih lanjut Hans menilai penguatan indeks sepanjang 2025 tidak terjadi secara instan, dan bukan sekadar fenomena sesaat. Menurut Hans, pasar sempat menghadapi tekanan cukup dalam pada awal tahun, termasuk koreksi tajam dipengaruhi oleh sentimen global.
“Awal tahun indeks berada di kisaran 7.100. Pasar sempat melemah, dan bahkan mengalami trading halt pada Maret 2025. Hal tersebut dipicu dinamika global, dan kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS),” ungkap Hans.
Seiring perjalanan waktu, lanjut Hans, persepsi investor terhadap risiko global, dan domestik dinilai membaik. Ketidakpastian eksternal tidak lagi dipandang seburuk sebelumnya. Sementara pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar turut menopang penguatan indeks.
Di sisi lain, sentimen domestik juga didukung optimisme terhadap perbaikan kebijakan, dan komunikasi ekonomi.“Pasar cenderung lebih tenang ketika ada pengakuan ekonomi menghadapi tantangan, dan perlu diperbaiki. Itu memberi ruang bagi investor untuk melihat peluang jangka menengah dan panjang,” ucapnya.
Penguatan indeks juga sejalan pertumbuhan basis investor pasar modal. Berdasar data BEI, per 29 Desember 2025, jumlah Single Investor Identification (SID) mencapai 20,32 juta, dengan jumlah investor saham menembus 8,59 juta. Kapitalisasi pasar tercatat Rp16 ribu triliun atau setara 70 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Related News
Dengar Masukan Penjual dan Platform Lokapasar, Permendag Direvisi
Imbal Hasil Obligasi 10 Tahun Jepang, AS, dan Australia Kompak Turun
Indofood Salurkan Bantuan Hewan Kurban Iduladha 2026
BTN Salurkan 1.605 Hewan Kurban
Iduladha 1447 H, ACC Salurkan Ratusan Hewan Kurban
AATI Dorong Standarisasi Internasional Analis Teknikal Via ATAS 2026





