EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirangan cenderung variatif dan berpotensi terkonsolidasi setelah ditutup rebound 0,92% pada perdagangan sebelumnya, Rabu (1/7).

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M Nafan Gusta mengatakan secara teknikal pergerakan IHSG telah mengalami rebound namun masih menunjukkan sinyal negatif, didukung penurunan volume.

“Secara teknikal, pergerakan IHSG telah rebound namun tanpa meyakinkan meskipun “wave (b)” and “wave (b) alt.” terdeteksi. Berdasarkan indikator, Stochastics K_D dan RSI menunjukkan sinyal negatif, didukung penurunan volume,” tutur Nafan, Kamis (2/7).

Salah satu sentimen yang menekan market yakni hasil perilisan data di awal Juli. ndeks S&P Global Manufacturing PMI Indonesia per Juni 2026 turun ke level 46,9 sehingga masuk ke zona kontraksi dari bulan sebelumnya pada level 50.

Inflasi tahunan meningkat ke 3,34% YoY, lebih tinggi dari bulan sebelumnya sebesar 3,08% YoY dan berada di atas konsensus sebesar 3,2%.

“Di sisi lain, neraca perdagangan Indonesia per Mei 2026 mencatatkan defisit sebesar USD1,61 miliar dan merupakan defisit pertama sejak April 2020,” jelas Nafan.

Adapun pada perdagangan hari ini Kamis (2/7), IHSG diproyeksi bergerak dengan support area di kisaran 5.568 dan 5.438, serta resistance area di 5.848 dan 5.972.

Mirae Asset Sekuritas juga memberikan opsi saham yang dapat dicermati pelaku pasar, di antaranya BBCA, CUAN dan RAJA.

Sementara itu, Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi memberikan dua skenario terhadap pergerakan IHSG hingga akhir tahun 2026. Pertama, dalam skenario positif IHSG dapat rebound ke 6.000-6.500 apabila reformasi pasar modal yang ditempuh OJK dan SRO dinilai kredibel oleh MSCI, serta nilai tukar rupiah stabil.

Sedangkan dalam skenario negatif, IHSG diperkirakan dapat tertekan ke 5.400-5.600 apabila Indonesia dinyatakan masuk ke dalam consultation list Frontier Market oleh MSCI pada November.