IHSG Gaspol! IPOT Rekomendasikan Sejumlah Saham Ini
:
0
Suasana penutupan perdagangan IHSG edisi 2025 di Main Hall Bursa Efek Indonesia. FOTO - ISTIMEWA
EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pekan lalu menguat 2,35 persen menjadi 7.634. Meski begitu, foreign flow menunjukkan distribusi dari asing Rp2,4 triliun didominasi sektor perbankan.
"Kalau kita tarik ke faktor global, sentimen utama masih didorong dinamika geopolitik, khususnya konflik antara Amerika Serikat (AS) vs Iran. Situasinya cenderung tidak stabil, dalam waktu dekat ada perubahan narasi cepat, ada pernyataan Selat Hormuz dibuka, tapi kemudian muncul lagi laporan gangguan hingga adanya tembakan terhadap kapal," tegas Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi.
Ia menambahkan ketidakstabilan geopolitik di Timur Tengah, terutama potensi gangguan di Selat Hormuz sebagai jalur bagi 20 persen distribusi minyak dunia, telah memicu sensitivitas tinggi pada pasar energi global. Tekanan pasokan ini bukan sekadar sentimen, melainkan fakta nyata yang mendorong harga minyak mentah Indonesia (ICP) melonjak tajam ke level USD102 per barel pada Maret lalu.
Meski AS berupaya melakukan stabilisasi melalui izin pembelian minyak Rusia untuk meredam inflasi energi, kondisi fundamental tetap menunjukkan ketatnya suplai akibat menipisnya cadangan di hub-utama seperti Cushing, AS. Harga energi secara struktural diprediksi akan tetap bertahan di level tinggi, meski terjadi koreksi jangka pendek.
Dampak dari tingginya biaya energi ini mulai merembet pada kualitas pertumbuhan ekonomi global yang tidak merata. China, sebagai motor ekonomi Asia, memang mencatat pertumbuhan solid 5 persen, namun mulai menunjukkan kerentanan akibat lemahnya konsumsi domestik dan tekanan di sisi eksternal. Jika konflik regional berlanjut, risiko terhadap permintaan global menjadi ancaman yang nyata bagi pelaku pasar.
Di sisi lain, komoditas nikel menunjukkan prospek yang kompleks. Meski ada potensi kenaikan harga akibat gangguan logistik bahan baku seperti sulphuric acid, lonjakan biaya produksi turut membayangi margin keuntungan. Kondisi ini membuat prospek sektor komoditas berada pada posisi cautiously optimistic, dimana potensi penguatan tetap ada, namun dibatasi oleh tantangan biaya operasional membengkak.
Sentimen Global dan Domestik Wajib Dipantau
Berbicara potensi pergerakan market periode 20-24 April 2026, Imam memprediksi pasar masih akan sangat dipengaruhi sentimen geopolitik, khususnya dinamika konflik Timur Tengah, dan perkembangan terbaru Selat Hormuz. Meski ada data ekonomi rilis, arah market tetap akan sangat bergantung pada headline geopolitik sifatnya unpredictable.
Di luar faktor tersebut, ada beberapa data penting perlu dicermati. Pasar China akan menunggu rilis Loan Prime Rate (LPR) 1 tahun dengan konsensus di level 3 persen, dan LPR 5 tahun 3,5 persen. Secara umum, angka ini akan memberi gambaran arah kebijakan moneter China ke depan, khususnya dalam menjaga momentum pertumbuhan sejauh ini masih terlihat cukup solid. Kalau tidak ada perubahan, artinya otoritas masih cenderung wait and see. Tapi kalau ada penurunan, itu bisa jadi sinyal bahwa tekanan ekonomi mulai meningkat dan pemerintah perlu memberikan stimulus tambahan.
Selanjutnya AS, data retail sales Maret juga akan jadi perhatian, dengan konsensus tumbuh 1,3 persen secara bulanan, lebih tinggi dari sebelumnya 0,6 persen. Data ini penting karena mencerminkan kekuatan konsumsi yang merupakan motor utama ekonomi AS. Kalau realisasinya sesuai atau di atas ekspektasi, bisa memperkuat narasi bahwa ekonomi AS masih cukup resilient meskipun ada tekanan dari sisi energi. Namun di sisi lain, angka yang terlalu kuat juga bisa membuat ekspektasi suku bunga tetap tinggi biasanya kurang favorable untuk market.
Nah, dari domestik, keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) juga akan menjadi fokus, dengan konsensus di level 4,75 persen. BI kemungkinan masih akan tetap menjaga suku bunga acuan 4,75 persen untuk menjaga stabilitas nilai tukar, dan inflasi masih terkendali. Pasar juga akan mencermati tone kebijakan ke depan, terutama apakah ada perubahan sikap dalam merespons tekanan eksternal yang meningkat.
Terakhir, data EIA Crude Oil Stocks Change juga menarik untuk diperhatikan, dengan konsensus penurunan sekitar 1 juta barel. Data itu sering kali jadi indikator jangka pendek untuk melihat kondisi supply-demand di pasar minyak. Penurunan stok biasanya mengindikasikan supply yang lebih ketat dan bisa menopang harga minyak tetap tinggi. Dalam konteks saat ini, data ini akan semakin relevan karena pasar sedang sangat sensitif terhadap isu pasokan energi.
Proyeksi IHSG dan Rekomendasi Trading Saham IPOT Pekan Ini
Periode 20-24 April 2026, Imam melihat IHSG masih bergerak dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan sideways cenderung volatile di tengah dominasi sentimen geopolitik dan belum kembalinya aliran dana asing secara konsisten. Secara teknikal, area 7.773 menjadi resistance terdekat cukup krusial. Di mana, kalau berhasil ditembus bisa membuka ruang kenaikan lanjutan. Namun, selama masih tertahan, potensi pullback tetap perlu diwaspadai. Sementara itu, level 7.308 menjadi support penting yang akan menjadi penopang apabila terjadi tekanan, terutama jika ada sentimen negatif dari global.
"Jadi secara keseluruhan, pergerakan IHSG kemungkinan masih akan berada dalam range tersebut, dengan market yang cenderung reaktif terhadap perkembangan eksternal," tandas Imam.
Merespons dinamika market, IPOT telah dilengkapi fitur LADI (Live Accumulation/Distribution Indicator) dengan data akumulasi dan distribusi saham secara real-time dan dirancang untuk investor ritel agar bisa memantau tekanan beli/jual secara langsung tanpa jeda serta membantu mendeteksi pergerakan smart money saat pasar berlangsung, merekomendasikan trading saham pada emiten-emiten berikut ini:
Yaitu, Pertamina Energy (PGEO) masuk Rp1035-1045, target harag Rp1105-1115, dan stop loss Rp1.000. Astra (ASII) Rp6.350-6.400, proyeksi Rp6.600-6.775, dan stop loss Rp6.175. Dan, terakhir Dian Swastatika (DSSA) masuk Rp3.240-3.260, dengan target Rp3.450, dan stop loss Rp3.150. (*)
Related News
IHSG Rawan Koreksi, Cek AUTO, BBRI, CMRY, dan MDKA
IHSG Sepekan Naik 2,35 Persen, Cermati Proyeksi Gerak Lanjutan
Asbanda Gelar Penarikan Undian Nasional Simpeda 2026 di Solo
14 Emiten Siap-Siap Tebar Dividen, Tengok Imbal Hasil dan Besarannya!
Siap-Siap! Daftar Antrean IPO Kian Padat di Kuartal II 2026
Simak! Berikut 10 Saham Top Losers Pekan Ini





