EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik melemah pada perdagangan Senin (25/5/2026) pagi. Berdasarkan pantauan melalui RTI Business sekitar pukul 09.24 WIB, IHSG berada di level 6.141,219 atau turun 20,826 poin setara 0,34%.

IHSG dibuka di level 6.187,655 dan sempat menyentuh level tertinggi harian di 6.224,751. Namun tekanan jual membuat indeks turun hingga level terendah 6.124,578 pada awal sesi perdagangan.

Meski bergerak di zona merah, mayoritas saham terpantau menguat. Sebanyak 323 saham naik, 241 saham melemah, dan 165 saham stagnan.

Aktivitas perdagangan pagi juga terpantau cukup ramai dengan volume transaksi mencapai 6,627 miliar saham dan nilai turnover sebesar Rp3,216 triliun dari 409.495 kali frekuensi transaksi. Sementara kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp10.617 triliun.

Seiring melemahnya indeks, saham-saham terdepak dari indeks FTSE Russell juga mengalami tekanan. Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) misalnya, turun 7,34% ke level Rp505 per saham. Dalam perdagangan intraday, saham DSSA bergerak di rentang Rp505 hingga Rp555.

Jika melihat pergerakan secara year to date, saham DSSA tercatat mengalami koreksi tajam. Pada awal 2026, harga saham emiten Grup Sinarmas tersebut masih diperdagangkan di atas level Rp4.000 per saham sebelum akhirnya mengalami penurunan drastis imbas kejutan ganda dari dua penyedia indeks global yang mendepak DSSA dari indeks mereka.

Tekanan lebih dalam terjadi pada saham PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) yang anjlok 14,41% ke level Rp1.455 per saham. Saham ini sempat diperdagangkan di kisaran Rp1.450 hingga Rp1.690 pada sesi pagi.

Secara ytd, DAAZ juga menunjukkan tren pelemahan berkepanjangan setelah sempat mencapai puncak mendekati Rp4.570 pada awal Februari 2026. Sejak saat itu, saham DAAZ terus bergerak turun hingga menyentuh level terendahnya saat ini.

Sementara itu, saham PT Mulia Industrindo Tbk (MLIA) stagnan di level Rp250 per saham. Kendati tidak bergerak pada perdagangan pagi ini, grafik ytd MLIA menunjukkan pola penurunan bertahap dari area Rp350-an di awal tahun.

MLIA juga masih berada dalam papan pemantauan khusus Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan notasi khusus X, 6a, dan 6b. Notasi tersebut menandakan emiten tidak memenuhi sejumlah ketentuan bursa, termasuk terkait persyaratan free float atau ekuitas minimum.