EmitenNews.com - Perdagangan saham pada Senin, 19 Oktober 2026, ditutup dengan pemandangan yang membuat para investor menahan napas. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan hebat dalam zona merah pekat, anjlok tajam 3,64 persen atau terpuruk minus 188,50 poin hingga terlempar ke level 4.996,61 tepat pada pukul 16.00 WIB. Di tengah kepanikan pasar yang melihat indeks jebol ke bawah level psikologis lima ribu tersebut, otoritas pasar modal justru mengambil langkah pembedahan struktural yang paling tajam dalam sejarah modern bursa kita.

Pada Senin sore, Bursa Efek Indonesia (BEI) secara resmi mengumumkan keputusan historis untuk membuang seluruh saham dengan kepemilikan sangat terpusat atau yang dikenal dengan istilah High Shareholding Concentration (HSC) dari rumusan perhitungan IHSG. Keputusan sangat berani ini lahir persis setelah jajaran direktur bursa merampungkan pertemuan daring tertutup dengan penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI), pada sore yang sama.

Langkah drastis otoritas bursa ini sama sekali bukan tanpa pemantik. Keputusan ini merupakan respons mitigasi darurat atas "tamparan keras" dari MSCI pada Kamis pekan sebelumnya (15/10/2026). Secara mengejutkan, MSCI meluncurkan proposal konsultasi publik yang mengancam akan menurunkan kasta (downgrade) pasar saham Indonesia dua level sekaligus, yakni dari status Emerging Market langsung terjerembab menjadi Standalone Market.

Ancaman eksklusi ekstrem dari kancah global tersebut secara lugas menyoroti krisis transparansi dan minimnya likuiditas saham beredar (free float) riil di pasar domestik, yang jika dibiarkan dapat memicu eksodus besar-besaran modal asing. Sebagai wujud bersih-bersih etalase pasar, selain mendepak saham HSC dari indeks, bursa juga langsung merilis inisiatif baru berupa penambahan status eksplisit "terafiliasi" atau "tidak terafiliasi" pada publikasi daftar pemegang saham di atas satu persen.

Tentu saja publik menanti apa sebenarnya detail dari perundingan krusial penyelamatan pasar dengan pihak asing tersebut. Namun, Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menegaskan bahwa bursa terikat etika kerahasiaan.

"Seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya dengan MSCI, kami tidak dapat mengungkap detail maupun kesimpulan dari pertemuan tersebut atas kesepakatan bersama," ungkap Jeffrey Hendrik kepada EmitenNews saat sesi wawancara doorstop di Gedung BEI, Jakarta, Senin (19/10) sore.

Meski enggan membeberkan isi dapur perundingan dengan MSCI, Jeffrey merespons gamblang keraguan publik bahwa bursa hanya sekadar tunduk pada kriteria pihak asing. Menurutnya, pembersihan indeks ini adalah kebutuhan mendesak untuk menjaga kewarasan pasar domestik kita sendiri.

"Untuk memberikan gambaran pergerakan IHSG yang lebih wajar, mengingat ada potensi risiko dalam saham-saham berstatus high shareholding concentration, kami akan mengeluarkan seluruh saham HSC dari IHSG. Saat ini kisarannya 18 persen. Kita semata-mata melakukan apa yang baik untuk pasar kita," tegas Jeffrey menutup penjelasannya.

Menguji Angka 18% dan Nasib IHSG 

Pernyataan Jeffrey Hendrik bahwa bobot saham HSC memakan porsi 18 persen dari indeks memunculkan rasa penasaran kritis. Benarkah saham-saham bersirkulasi semu ini menyandera hampir seperlima pergerakan IHSG? Jawabannya adalah ya, dan sangat valid.