EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan sesi I Jumat (8/5/2026). Berdasarkan data RTI Business pukul 09.05 WIB, IHSG terkoreksi 9,275 poin atau 0,13 persen ke level 7.165,045.

IHSG sempat dibuka menguat di 7.182,961 dan menyentuh level tertinggi 7.186,830, sebelum berbalik tertekan hingga level terendah 7.148,974. Volume transaksi tercatat 3,574 miliar saham dengan nilai Rp1,247 triliun dan frekuensi 198.622 kali. Sebanyak 194 saham menguat, 303 saham melemah, dan 193 saham stagnan. Kapitalisasi pasar pagi ini Rp12.806,563 triliun.

Pelemahan pagi ini terjadi setelah IHSG kemarin ditutup naik 1,2 persen ke 7.174,32 didorong big caps perbankan BBCA dan BBRI. Riset Mirae Asset Sekuritas Indonesia Jumat (8/5/2026) menyebut pasar saat ini tengah menguji efektivitas tujuh langkah stabilisasi nilai tukar Bank Indonesia dan rencana reaktivasi Bond Stabilization Fund (BSF) pemerintah.

Market commentary Head of Research Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto menyatakan keberadaan backstop yang kredibel menjadi penting.

“Situasi saat ini sudah cukup kritis dengan tekanan yield SBN, rupiah yang sempat melemah tajam, dan risiko outflow yang meningkat,” tulisnya.

Hari ini BI merilis data cadangan devisa April 2026 yang diperkirakan turun sejalan intervensi meredam depresiasi Rupiah. Ruang intervensi BI disebut terbatas setelah kepemilikan SBN oleh BI menyentuh rekor sekitar Rp1.818,4 triliun per 5 Mei 2026.

USD/IDR pagi ini di Rp17.333, menguat 0,31 persen. Yield SBN 10 tahun di 6,61, turun 13 bps. Asing kemarin net sell Rp76,47 miliar dengan top buy BBRI, TINS, GOTO dan top sell BMRI, BRPT, PTRO.

Analis teknikal Muhammad Nafan Aji menyebut IHSG masih bullish consolidation. Support 7.119 dan 7.014, resistance 7.244 dan 7.346.