EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan bergerak melemah. Mengekor bursa regional yang terjebak zona merah. Namun, koreksi harga komoditas logam dasar seperti nikel dan tin mulai tertahan.
Meski begitu, logam dasar masih tertekan. Pasalnya, Tiongkok memperketat karantina untuk para turis. Kondisi itu, membuat Merdeka Copper (MDKA) tekor 2,9 persen, Vale (INCO) susut 1,3 persen, Aneka Tambang (ANTM) menukik 1,3 persen, dan Timah (TINS) mulai surplus.
”Oleh karena itu, IHSG hari ini akan bergerak pada rentang support 6.950, dan resisten 7.010,” tutur Alwin Rusli, Research Analyst Reliance Sekuritas Indonesia, Rabu (29/6).
Secara teknikal, IHSG kembali diperdagangkan di bawah level psikologis 7.000. Terjun ke bawah MA5 setelah tertolak dari MA20. Sementara indicator stochastic masih berimpitan cenderung golden cross. Beberapa saham berpotensi naik hari ini antara lain KINO, ESSA, MSKY, SMKM, PTBA, UNTR, WIKA, dan WSKT.
Kemarin IHSG menyusur zona merah setelah drop 0,28 persen ke level 6.996,46. Sejumlah sektor pendorong koreksi IHSG yaitu sektor basic materials anjlok 1,45 persen, keuangan minus 1,03 persen, dan teknology susut 0,99 persen. Investor asing membukukan net sell Rp851.59 miliar. Saham-saham paling banyak dijual adalah BBCA, BMRI, dan TLKM.
Sementara itu, bursa saham Amerika Serikat (AS) Wall Street juga terkoreksi. Indeks Nasdaq nyungsep 2,98 persen. Kondis itu, menambah kekhawatiran perlambatan ekonomi AS makin menebal. Bursa Asia pagi ini menyusuri zona merah. Indeks Nikkei minus 0,82 persen, dan indeks Kospi tekor 1,33 persen. Itu terjadi akibat Consumer Confidence Korea Selatan pada Juni di kisaran 96,4. Kabar baik dari Jepang dengan retail sales naik di atas konsensus pasar yaitu tumbuh 3,6 persen pada Mei. (*)
Related News
Produksi Jagung Pangan Untuk Industri Digenjot, Targetnya 18 Juta Ton
Wamenkeu: Tarif Layanan Seharusnya Bukan Fokus Cari Untung
Aset Perbankan Syariah Capai Angka Tertinggi Sepanjang Masa
Sektor Halal Value Chain Tumbuh 6,2 Persen Pada 2025
PTBA Targetkan Kapasitas Produksi 100 Juta Ton
Berlaku 2027, AHY: Kebijakan ODOL Tak Boleh Hanya Sasar Pengemudi





