EmitenNews.com - Indeks saham di Asia sore ini Senin (17/1) ditutup variatif (mixed). "Sentimen diwarnai oleh kekhawatiran mengenai prospek ekonomi China, pengetatan kebijakan moneter oleh bank sentral AS (Federal Reserve) untuk memerangi inflasi serta penularan cepat varian Omicron virus Covid-19," ulas analis Phillip Sekuritas, Dustin Dana Pramitha.
Rilis sejumlah data ekonomi China memberi konfirmasi atas dampak ekonomi yang diakibatkan oleh penerapan kebijakan pembatasan sosial pada belanja konsumen, sehingga memicu bank sntral Tiongkok (PBOC) untuk kembali melonggarkan kebijakan moneter.
Ekonomi China tumbuh 4.0% Y/Y di 4Q21, lebih cepat dari ekspektasi namun merupakan laju pertumbuhan terlemah sejak 2Q20 dan melambat dari laju pertumbuhan 4.9% Y/Y di 3Q21.
Untuk tahun 2021, ekonomi tumbuh 8.1%, lebih tinggi dari estimasi 8.0% dan jauh di atas target pertumbuhan di atas 6% yang ditetapkan oleh Pemerintah dan pertumbuhan 2.2% di tahun 2020.
Konsumsi yang melemah terlihat dalam data Penjualan Ritel yang hanya berhasil tumbuh 1.7% Y/Y di bulan Desember, terendah sejak Agustus 2020 dan lebih kecil dari estimasi kenaikan 3.7% Y/Y dan melambat dari pertumbuhan 3.7% Y/Y di bulan November.
Investasi Aset Tetap (Fixed Asset Investment) tumbuh 4.9% Y/Y di bulan Desember, lebih cepat dari pertumbuhan ekspektasi pasar yang naik 4.8% namun lebih lambat dari petumbuhan 5.2% selama 11M2021.
Titik cerah datang dari data Industrial production Tiongkok yang ekspansi 4.3% Y/Y di bulan Desember, lebih baik dari ekspekatsi kenaikan 3.6% dan lebih cepat dari peningkatan 3.8% Y/Y di bulan November.
Tepat sebelum rilis data-data ini, bank sentral China (PBOC) telah mengambil tindakan untuk menopang kinerja ekonomi di bulan-bulan mendatang.
Untuk pertama kali sejak April 2020, PBOC secara tak terduga memangkas suku bunga acuan medium-term lending facility (MLF) bertenor 1 tahun sebesar 10 bps menjadi 2.85%. PBOC juga memangkas suku bunga 7-day Reverse Repo Rate dan menyuntikkan 200 miliar Yuan (USD31.5 miliar) ke dalam sistem keuangan.
Langkah yang di ambil hari ini membuat PBOC semakin berbeda dengan bank-bank sentral utama di dunia yang justru sedang berusaha menormalisasi kebijakan moneter untuk menahan lonjakan inflasi.
Statistik
IHSG: 6,645.048 | -48.35 poin |(-0.72%)
Volume (Shares) : 16.652 Billion
Total Value (IDR) : 9.8 Trillion
Market Cap (IDR) : 8,358.644 Trillion
Foreign Net BUY (RG): IDR 284.02 Billion
Saham naik : 203
Saham turun : 340
Sektor Penekan Terbesar
Teknologi :-367.19 poin
Barang Baku : -20.29 poin
Infrastruktur : -9.87 poin
Top Gainers:
SDMU : 140 | +36 | +34.62%
GTSI : 63 | +13 | +26.00%
BIMA : 332 | +66 | +24.81%
AMAR : 625 | +95 | +17.92%
TOBA : 1,310| +185| +16.44%
Top Losers:
PTPP : 930 | -70 | -7.00%
AGRS : 148 | -11 | -6.92%
BBHI : 5,625| -400| -6.64%
BUKA : 366 | -26 | -6.63%
BAPA : 103 | -7 | -6.35%.(fj)
Related News
TKDN Industri Hulu Migas Hingga 2025 Setara Rp388 Triliun
Hasil Tajak di Sumur Pengembangan ABB-143 Hasilkan 3.672 BOPD Minyak
IHSG Bertabur ATH, Investor Tunggu Prabowo Buka Perdagangan 2026
Perkembangan Terbaru si Saham Rp1
Saham di Bawah Gocap, Masih Mantap atau Bikin Engap?
Pupuk Indonesia Siap Gelontorkan 9,8 Juta Ton Pupuk Subsidi di 2026





