EmitenNews.com - Harga emas dunia bertahan stabil di atas level USD4.400 per ons pada perdagangan Kamis. Komoditas logam mulia ini bergerak mendekati level tertinggi dalam sepuluh minggu terakhir, terdorong oleh data inflasi konsumen Amerika Serikat yang relatif terkendali sehingga mengurangi tekanan bagi Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga acuan.

Laporan yang dirilis pada Rabu menunjukkan inflasi konsumen AS melambat selama dua bulan berturut-turut menjadi 3,4 persen pada Juli, dengan kenaikan bulanan hanya sebesar 0,1 persen. Saat ini, para investor sedang menantikan rilis data inflasi produsen untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah tekanan harga global.

Berdasarkan data dari Trading Economics, rilis inflasi tersebut langsung mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter AS. "Pasar sekarang melihat sekitar 40% kemungkinan kenaikan suku bunga 25 basis poin dari Fed pada bulan September, turun dari hampir 50% sehari sebelumnya," tulis laporan Trading Economics terkait respons pasar keuangan.

Selain faktor inflasi, pergerakan harga emas juga mendapat sokongan dari penurunan harga minyak dunia saat investor mencermati peluang kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz. Meski demikian, ketegangan retorika antara AS dan Iran di tengah kebuntuan proses negosiasi dinilai masih menekan potensi tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat.

Bagi pasar keuangan Indonesia, penguatan harga emas global ini menjadi sentimen yang memicu perhatian para pelaku investasi domestik. Pergerakan harga emas dunia umumnya berdampak langsung pada penyesuaian harga emas batangan Antam di dalam negeri serta mempengaruhi daya tarik emas sebagai instrumen lindung nilai (hedging) di tengah dinamika ekonomi global.(*)