InJourney Hidupkan Grand Hotel De Djokja, Daya Tarik Sudirman Suite
PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) mengembalikan nama historis salah satu hotel legendaris di Yogyakarta menjadi Grand Hotel De Djokja. Dok. Booking.
EmitenNews.com - PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) mengembalikan nama historis salah satu hotel legendaris di Yogyakarta menjadi Grand Hotel De Djokja. InJourney menghidupkan kembali jejak sejarah panjang kawasan Jalan Malioboro, Yogya, melalui langkah terbaru sektor pariwisata nasional itu. Babak baru kebangkitan salah satu ikon hotel bernuansa heritage Indonesia yang telah berdiri sejak 1911, dimulai lagi.
Dalam keterangannya yang dikutip Selasa (17/3/2026), Direktur Utama InJourney, Maya Watono mengungkapkan bahwa revitalisasi Grand Hotel De Djokja langkah strategis InJourney dalam menghadirkan wajah Indonesia melalui penguatan identitas budaya dan warisan bangsa sebagai fondasi utama pengembangan pariwisata nasional.
Pengembalian nama tersebut tidak sekadar rebranding, melainkan upaya strategis untuk menghidupkan kembali identitas historis hotel sekaligus memperkuat posisinya sebagai landmark budaya dan destinasi kelas dunia di jantung Yogyakarta.
InJourney tak hanya membangun destinasi namun juga merangkai ekosistem pariwisata yang berkarakter dan mengangkat nilai-nilai luhur Indonesia, sehingga setiap aset yang dikelola menjadi representasi kebanggaan nasional sekaligus daya tarik berkelas dunia.
"Sebagai holding BUMN aviasi dan pariwisata, InJourney memiliki mandat tidak hanya untuk mengelola aset, tetapi juga menghidupkan kembali nilai sejarah dan identitas bangsa. Grand Hotel De Djokja adalah simbol perjalanan panjang Indonesia," kata Maya Watono.
Melalui revitalisasi ini, pihaknya ingin memastikan warisan tersebut tidak hanya terjaga, tetapi juga relevan dan kompetitif di tingkat global. Dengan begitu mampu menjadi katalis penguatan pariwisata Yogyakarta dan nasional.
Data yang ada menyebutkan, hotel yang berdiri pada 1911 ini merupakan salah satu hotel tertua dan paling prestisius di kawasan Malioboro. Dalam lintasan sejarahnya, hotel ini telah mengalami berbagai transformasi nama.
Mulai dari Hotel Asahi (1942), Hotel Merdeka (1948), Hotel Garuda (1950), Natour Garuda (1975), Inna Garuda (2001), hingga Grand Inna Malioboro (2017). Itu catatan sejarah sebelum akhirnya kembali ke nama aslinya sebagai bentuk penghormatan terhadap akar sejarah dan warisan budaya Yogyakarta.
Penting diketahui Grand Hotel De Djokja memiliki peran penting dalam sejarah bangsa. Pada periode 1945-1946 saat Yogyakarta menjadi ibu kota Republik Indonesia, sejumlah ruang di hotel ini pernah difungsikan sebagai markas Tentara Keamanan Rakyat di bawah kepemimpinan Panglima Besar Jenderal Soedirman.
Salah satu ruang bersejarah tersebut kini diabadikan sebagai "Sudirman Suite" (Room 291), yang masih menyimpan artefak peninggalan bersejarah.
Revitalisasi hotel ini berada di bawah pengelolaan anak perusahaan InJourney, InJourney Hospitality sebagai bagian dari portofolio strategis InJourney dalam pengembangan hotel-hotel bersejarah nasional.
Menurut Direktur Utama InJourney Hospitality, Christine Hutabarat, transformasi ini sejalan dengan inisiatif strategis dalam menghidupkan kembali The Heritage Collection yang bertujuan untuk mengangkat kembali hotel-hotel bersejarah Indonesia menjadi destinasi hospitality yang tak hanya menawarkan kenyamanan, tetapi juga menghadirkan narasi, identitas, dan pengalaman budaya yang autentik.
"Kami percaya kebangkitan Grand Hotel De Djokja akan menjadi katalis penting dalam memperkuat ekosistem pariwisata Yogyakarta. Lebih dari sekadar tempat menginap, hotel ini kami hadirkan sebagai destinasi budaya, landmark kemewahan, dan ruang pertemuan bagi kreativitas, bisnis, serta pariwisata global di jantung Malioboro," jelas Christine Hutabarat.
Grand Hotel De Djokja resmi menyambut tamu mulai 16 Maret 2026 dalam fase soft opening dengan penawaran tarif spesial Rp1.911.000 nett per kamar per malam, termasuk sarapan untuk dua orang.
Angka 1911 merepresentasikan tahun berdirinya hotel ini, sekaligus menegaskan komitmen untuk menjaga kesinambungan sejarah dan masa depan. ***
Related News
Tok! BI Rate Tetap 4,75 Persen, Antisipasi Dampak Perang Timur Tengah
Pasokan Listrik Untuk Idulfitri Aman, Cadangan Memadai
RI Berpotensi Kehilangan Devisa Rp184,88M/Hari Dampak Konflik Timteng
Harga Emas Antam Selasa Rp4.000 Per Gram
Posisi ULN Swasta Januari 2026 Turun USD1 Miliar
Posisi Utang LN Indonesia Pada Januari 2026 USD434,7 Miliar





