EmitenNews.com - Pemerintah berusaha keras mengejar pertumbuhan ekonomi 6 persen hingga akhir tahun 2026. Salah satu strateginya, mendorong pertumbuhan investasi lebih cepat dibandingkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB).

Dalam keterangannya yang dikutip Selasa (25/8/2026), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai langkah tersebut diperlukan. Pasalnya, pemerintah masih menghadapi tantangan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi menuju 6 persen pada akhir tahun.

Airlangga mengemukakan, pada semester I 2026, perekonomian tumbuh 5,45 persen. Hal itu menjadi pertumbuhan tertinggi dalam 13 tahun terakhir, termasuk di antara negara G20. 

“Jadi menjelang sampai akhir tahun Bapak Presiden meminta kita mendorong supaya mendekati 6 persen di akhir tahun. Dan tentu ini bisa menjadi tantangan dan juga harus kerja keras," ujar Airlangga.

Peningkatan investasi menjadi salah satu kunci untuk menciptakan tambahan pertumbuhan ekonomi. Investasi perlu tumbuh lebih cepat dibandingkan PDB dan diarahkan pada proyek-proyek yang memiliki nilai tambah tinggi.

Kemudian, selain mendorong investasi, pemerintah bakal mengoptimalkan rantai nilai dalam negeri agar aktivitas investasi memberikan dampak yang lebih besar terhadap perekonomian.

Di luar itu, peningkatan produktivitas sumber daya manusia serta penguatan ekspor bernilai tambah yang ditopang efisiensi logistik juga menjadi bagian penting dari strategi pertumbuhan.

Pemerintah masih menghadapi berbagai tantangan eksternal, mulai dari dinamika geopolitik, konflik di sejumlah kawasan, ketidakpastian di Selat Hormuz hingga perang dagang yang berpotensi memengaruhi perdagangan dan investasi.

Satu hal, meski menghadapi tekanan global, Menko Airlangga memastikan fundamental ekonomi Indonesia tetap terjaga. Hal ini tercermin dari pendapatan negara yang tercatat tumbuh 21,3 persen (yoy) dibandingkan tahun sebelumnya, sedangkan belanja negara tumbuh 18,2 persen (yoy). Sementara itu, defisit anggaran masih terkendali sebesar 0,91 persen terhadap PDB.

Untuk tahun 2027, Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen, dengan inflasi 2,5 persen, suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun 6,9 persen, dan nilai tukar Rp17.500 per dolar AS.