Kementerian ESDM Catat Lima Tantangan dalam Pengembangan Bioavtur
Ilustrasi penggunaan bioavtur. dok. Suara. Pertamina.
EmitenNews.com - Terdapat tantangan dan peluang dalam pengembangan sustainable aviation fuel (SAF) atau bioavtur, bahan bakar penerbangan ramah lingkungan. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkap, sedikitnya ada lima tantangan yang harus dihadapi dalam pengembangan bioavtur ke depan.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat, tantangan pertama, yakni terbatasnya ketersediaan jumlah dan jenis bahan baku untuk produksi SAF.
"Bahan baku yang digunakan menghindari kompetisi dengan makanan dan bahan baku industri lainnya," ujar Direktur Bioenergi Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Edi Wibowo, di Jakarta, Rabu (13/12/2023).
Adi Wibowo mengemukakan hal itu, saat Focus Group Discussion bertajuk "Biodiesel dan Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan di Indonesia" yang digelar oleh Institute for Development of Economics and Finance (Indef).
Kedua, mengurangi biaya produksi hingga sebanding dengan bahan bakar avtur agar SAF layak secara ekonomi dan produksi dapat ditingkatkan secara signifikan.
Tantangan ketiga, masih terbatasnya infrastruktur untuk produksi, penyimpanan, dan distribusi SAF. Keempat, yakni proses sertifikasi yang rumit.
Kelima, yaitu penelitian dan pengembangan teknologi dan inovasi proses yang berkelanjutan untuk menjadikan SAF sebagai bahan bakar aviasi yang affordable.
Edi Wibowo mengungkapkan, saat ini, yang sudah mau mulai mengembangkan, Pertamina. Selain itu, ada beberapa badan usaha yang mulai tertarik untuk mengembangkan SAF, meski masih harus dilihat ke depan. ***
Related News
Dari 23 Subsektor Industri Pengolahan, 20 Di Fase Ekspansi
Bapanas Pastikan Ketersediaan Pangan Pokok Aman Hingga Maret
IKI Januari 2026 Catat Rekor Tertinggi Dalam 49 Bulan
Pemerintah Dan BI Perkuat Sinergi Kendalikan Inflasi 2026
Tinggi Minat Investor Semikonduktor, HKI Siapkan Kawasan Strategis
Logistik Jadi Kunci Resiliensi Saat Tensi Geopolitik Global Memanas





