EmitenNews.com - Harga minyak mentah dunia tercatat masih bertahan di atas USD 84 per barel pada Kamis, setelah sempat melonjak lebih dari 6 persen pada sesi perdagangan sebelumnya. Sementara itu, minyak mentah jenis Brent juga tetap stabil di atas level USD 90 per barel usai mencatatkan lonjakan melebihi 8 persen. Kenaikan tajam ini didorong oleh memanasnya kembali pertempuran antara Amerika Serikat dan Iran yang mengancam kelancaran pasokan energi global.

Kementerian ESDM melaporkan bahwa eskalasi militer meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump berjanji memberikan respons kuat atas serangan yang menimpa pasukan negaranya di Yordania. Di sisi lain, negosiasi antara kedua negara masih menemui jalan buntu karena Teheran tetap bersikeras untuk mempertahankan kendali penuh atas kawasan Selat Hormuz.

Kondisi keamanan semakin memburuk setelah konflik meluas hingga ke wilayah Laut Merah. Pemberontak Houthi di Yaman yang didukung Iran mengancam akan memblokade Arab Saudi. Ancaman tersebut mendorong pemerintah Riyadh mengambil langkah tegas dengan bergabung bersama pasukan Amerika Serikat untuk menggempur sasaran militer di Irak yang terhubung dengan kelompok militan sokongan Teheran.

Selain faktor geopolitik di Timur Tengah, pengetatan pasokan pasar fisik juga dipicu oleh kondisi internal Amerika Serikat. Persediaan minyak mentah komersial di negara tersebut mencatatkan penurunan terbesar sejak pertengahan Juni. Pada saat yang sama, Cadangan Minyak Strategis Amerika Serikat terus menyusut selama 18 minggu berturut-turut hingga menyentuh level terendah sejak tahun 1983.

Perkembangan harga minyak mentah global ini menjadi perhatian serius bagi perekonomian Indonesia. Sebagai negara pengimpor bersih minyak bumi atau net oil importer, lonjakan harga di pasar internasional berpotensi meningkatkan beban subsidi energi serta memengaruhi stabilitas harga bahan bakar minyak di dalam negeri.(*)