EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin ditutup menguat tipis 0,27 persen menjadi 8.975 setelah sempat bergerak dua arah. Saham sektor basic materials membukukan penguatan terbesar, seiring dengan kenaikan harga komoditas. 

Namun sektor energi mencatat koreksi terbesar, akibat pelemahan pada saham Bumi Resources (BUMI), Petrosea (PTRO), dan Darma Henwa (DEWA), disinyalir karena mengantisipasi pengumuman metodologi perhitungan free-float atas saham-saham di Indonesia oleh MSCI. 

Secara teknikal, indicator Stochastic RSI berada di area oversold namun belum menunjukkan reversal. Namun, terjadi pelebaran histogram negatif di MACD. Sehingga diperkirakan indeks masih akan berkonsolidasi pada kisaran 8.850-9.100. 

Rupiah di pasar spot ditutup menguat menjadi Rp16.782 per dolar Amerika Serikat (USD). Penguatan Rupiah di tengah pelemahan indeks Dolar AS menjelang pertemuan the Fed pekan ini, dan eskalasi ketegangan geopolitik melibatkan AS dengan beberapa negara. 

Harga emas menguat pada level tertinggi baru mendekati level USD5.100 per troy oz akibat peningkatan permintaan akan safe-haven di tengah lonjakan ketidakpastian politik, dan perdagangan. Kementerian Keuangan akan menyiapkan Surat Berharga Negara (SBN) valuta asing domestik khusus.

Itu sebagai instrumen penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam. Mekanisme penerbitan SBN Valas untuk DHE SDA itu, nanti akan menyerupai skema yang pernah diterapkan pemerintah pada Program Pengungkapan Sukarela (PPS) atau Tax Amnesty Jilid II pada 2022. 

Berdasar data dan fakta tersebut, Phintraco Sekuritas menyarankan para pelaku pasar untuk mengoleksi sejumlah saham andalan berikut. Yaitu, Pertamina Geothermal (PGEO), Erajaya Swasembada (ERAA), Jasa Marga (JSMR), AKR Corporindo (AKRA), dan Medco Energi (MEDC). (*)