Menjadi Target Akuisisi, DPUM Defisit Rp764 Miliar
Kompleks pabrik besutan Dua Putra tampak dari udara. FOTO - ISTIMEWA
EmitenNews.com - Dua Putra Utama Makmur (DPUM) per 30 September 2025 mengemas rugi Rp28,21 miliar. Drop 55.685 persen dari edisi sama tahun sebelumnya dengan tabulai laba Rp50,75 juta. So, rugi per saham dasar menjadi Rp6,76 dari surplus Rp0,01.
Pendapatan Rp850,6 miliar, melejit 9,63 persen dari posisi sama tahun sebelumnya Rp775,82 miliar. Beban pokok pendapatan Rp814,49 miliar, bengkak dari edisi sama 2024 di level Rp764,73 miliar. Laba kotor Rp36,1 miliar, melonjak signifikan dari fase sama tahun sebelumnya Rp11,08 miliar.
Beban usaha Rp15,31 miliar, bengkak dari periode sama tahun sebelumnya Rp11,76 miliar. Beban lain-lain Rp3,67 miliar, drop dari posisi sama tahun sebelumnya surplus Rp3,64 miliar. Laba usaha Rp17,11 miliar, meroket 478,04 persen dari posisi sama tahun sebelumnya Rp2,96 miliar.
Penghasilan keuangan Rp130,27 ribu, anjlok dari Rp8,53 juta. Beban keuangan Rp4 miliar, bengkak dari Rp2,92 miliar. Laba sebelum beban pajak Rp13,11 miliar, melangit dari Rp50,75 juta. Beban pajak penghasilan Rp41,32 miliar dari nihil. Jumlah ekuitas Rp365,94 miliar, turun dari Rp394,15 miliar.
Defisit menumpuk Rp764 miliar, bengkak dari akhir 2024 tercatat Rp735,79 miliar. Total liabilitas Rp797,32 miliar, mengalami pembengkakan dari akhir tahun sebelumnya Rp794,15 miliar. Jumlah aset Rp1,16 triliun, mengalami perosotan dari akhir 2024 senilai Rp1,18 triliun.
Sekadar informasi, Dua Putra Utama Makmur bakal punya pengendali baru. Itu menyusul negosiasi antara Pandawa Putra Investama (PPI) dengan Rama Indonesia. Pandawa Investama bertindak sebagai pengendali lawas, dan Rama Indonesia sebagai calon pengendali baru.
Berdasar skenario, Rama Indonesia akan mengakuisisi 59,24 persen saham dari modal ditempatkan dan disetor dalam perseroan. Saham sebanyak itu, akan dibeli oleh Rama Indonesia dari Pandawa Investama. ”Setelah transaksi, Rama Indonesia menjadi pengendali baru perseroan,” tegas Fransisda Marga Saputra, Direktur Rama Indonesia.
Rencana pengambilalihan, dan penyelesaian transaksi dilakukan secara langsung antara Rama Indonesia dengan Pandawa Investama. Adapun materi negosiasi masih didiskusikan antara lain mengenai nilai final rencana pengambilalihan, dan waktu penyelesaian akuisisi.
Saat ini, Rama Indonesia tidak memiliki, baik langsung maupun tidak langsung, saham yang diterbitkan perseroan. ”Tujuan rencana pengambilalihan adalah untuk investasi dari rencana pengembangan, dan ekspansi bisnis grup,” imbuh Fransisda.
Setelah transaksi, sebagai pengendali baru perseroan, Rama Indonesia akan melaksanakan penawaran tender wajib sesuai ketentuan Peraturan OJK No. 9/2018. Pelaksanaan akuisisi maupun penawaran tender wajib akan dilakukan dengan memperhatikan ketentuan berlaku, termasuk ketentuan bidang pasar modal.
Rama Indonesia menekuni bidang jasa penyediaan, dan pengelolaan sumber daya manusia (SDM) alias outsourcing. Rama Indonesia beralamat di Jalan Agung Timur II Blok 04 Nomor 9-11, Gunter Jaya, Tanjung Priok, Jakarta Utara, DKI Jakarta.
Negosiasi antara Pandawa Investama dengan calon pengendali baru tidak berdampak negatif terhadap perseroan. Baik dari itu dari sisi kegiatan operasional, hukum, kondisi keuangan, dan keberlangsungan usaha perseroan tetap berjalan normal,” ucap Bambang Panca Putra, Direktur Utama Dua Putra Utama Makmur. (*)
Related News
Ambil Untung, Bos KLAS Lego 120 Juta Helai
Labeli Grup Bakrie (DEWA) idA, Ini Alasan Pefindo
Saham Bangkit, Komisaris MDKA Serok Harga Bawah
Senyap! Investor Ini Genggam 6,02 Persen Saham KIOS
BREN Penghuni Baru LQ45, Bobot 4 Saham Ini Meledak
Divestasi Saham JAYA, PPGL Raup Rp44,6 Miliar





