Market Review, Indeks Saham di Asia pada Akhir Pekan Cenderung Melemah

EmitenNews.com -Indeks saham di Asia pada Jumat (24/11) ditutup beragam (mixed) dengan kecenderungan melemah dengan indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang di tutup turun namun berhasil mencatatkan kenaikan mingguan 0.8% sehingga selama bulan November ini indeks masih menguat sekitar 7% karena investor semakin yakin bahwa suku bunga acuan di AS sudah mencapai puncaknya.
Indeks Nikkei 225 ditutup menguat dan mencatatkan kenaikan mingguan 0.12%. Dengan demikian, Nikkei 225 memperpanjang kenaikan menjadi empat minggu beruntun sehingga di bulan November ini saja sudah lompat hampir 9%.
Investor mencerna rilis data inflasi (CPI) Jepang. Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) naik 3.3% Y/Y di bulan Oktober, tertinggi sejak bulan Juli dan lebih cepat dari kenaikan 3.0% Y/Y pada bulan sebelumnya.
Secara bulanan (month-on-month), inflasi umum naik 0.7%, tertinggi sejak April 2014 menyusul kenaikan 0.3% di bulan September.
Inflasi inti (Core CPI) naik tipis menjadi 2.9% Y/Y dari 2.8% di bulan September yang juga merupakan level terendah dalam 13 bulan terakhir. Dengan demikian, Core CPI sudah bertahan di atas target inflasi 2% yang di tetapkan oleh bank of Japan (BOJ) selama 19 bulan beruntun.
Fakta bahwa inflasi selama lebih dari satu tahun ini berada di atas target inflasi 2% telah membangkitkan spekulasi bahwa BOJ mungkin akan menaikkan suku bunga acuan jangka pendek menjadi sekitar 0% dari -0.1% di bulan Januari 2024.
Dari sisi geopolitik, Israel dan Hamas hari ini memulai gencatan senjata selama empat hari dengan pembebasan 13 wanita Israel dan anak-anak sore ini sementara aliran bantuan akan di perbolehkan masuk ke wilayah jalur Gaza. Ini adalah jeda pertama dalam perang yang sudah berlangsung hampir tujuh minggu.
Investor telah mencermati rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) 3Q23 Jerman dan data Ifo Business Climate bulan November Jerman yang telah dirilis semalam.
Selain itu, investor akan memantau kinerja perusahaan ritel di AS selama ajang Black Friday yang secara tidak resmi menandakan di mulainya musim belanja untuk hari Natal di tengah semakin kuatnya kekhawatiran belanja masyarakat akan melemah di bawah tekanan berkurangnya dana tabungan, lonjakan utang kartu kredit dan juga inflasi yang masih tinggi.
Related News

Maanfaatkan Pasar Mamin, ITPC Meksiko Fasilitasi Business Matching

Malaysia Cabut Bea Masuk Anti Dumping Serat Selulosa Asal Indonesia

PLN Pertahankan Status Siaga Kelistrikan Hingga 11 April

Kemenperin Rilis Peta Jalan Hilirisasi untuk Pacu Swasembada Aspal

Investasi Tembus Rp206 Triliun, Industri Agro Serap 9,3 Juta Naker

Diskon Biaya Listrik 50 Persen Berakhir, Maret Berlaku Tarif Normal