EmitenNews.com - PT Dharma Henwa Tbk. (DEWA) emiten jasa pertambangan milik Grup Bakrie ini menutup semester I 2026 dengan catatan lonjakan laba bersih, meski pertumbuhan laba inti masih terbatas.

Pendapatan perseroan tercatat Rp3,20 triliun, tumbuh 3,23% dibanding periode sama tahun lalu Rp3,10 triliun. Efisiensi juga terlihat dari beban pokok yang susut 0,77% menjadi Rp2,59 triliun. Hasilnya, laba bruto terangkat 23,46% ke Rp612,16 miliar.

Kenaikan paling tajam ada di laba sebelum pajak yang mencapai Rp464,09 miliar, atau melonjak 88,32% secara tahunan. Laba bersih yang diatribusikan ke pemilik entitas induk pun menembus Rp354,28 miliar, naik 88,93% dari Rp187,44 miliar pada H1-2025.

Posisi neraca ikut menguat. Total aset naik 5,32% menjadi Rp17,62 triliun dari Rp16,73 triliun di akhir 2025. Liabilitas bertambah 16,83% ke Rp9,51 triliun, sementara ekuitas terkoreksi 5,59% ke Rp8,11 triliun.

Everson Sugianto, Investment Analyst Stockbit, pada Senin (10/8/2026) memaparkan, "Laba bersih DEWA tumbuh +182% QoQ pada 2Q26, sehingga naik +89% YoY selama 1H26. Pertumbuhan itu ditopang penyesuaian nilai wajar investasi saham yang mengkompensasi beban bunga tambahan akibat denda pinjaman bank."

Analis menilai lonjakan laba ini banyak dipengaruhi pos-pos insidental. Tanpa memperhitungkan dampak tersebut, kinerja inti DEWA cenderung mendatar.

"Mengesampingkan kedua faktor one–off, core profit relatif flat secara kuartalan pada 2Q26 dan tumbuh +1% YoY selama 1H26, sejalan dengan ekspektasi," ujar Sugianto.

Di kuartal II, DEWA mencatat laba Rp262 miliar. Angka ini naik 182% QoQ dan 121% YoY. Pendorong utamanya adalah penyesuaian nilai wajar investasi saham Rp229 miliar, yang menahan beban keuangan yang melonjak 95% QoQ karena adanya denda bank Rp46 miliar.

Secara operasional, margin kotor DEWA naik ke 20,7% di 2Q26, tertinggi sejak awal 2022. Peningkatan ini sejalan dengan kenaikan tarif pengerjaan 9% QoQ dan porsi pekerjaan internal yang naik ke 89%. Peningkatan porsi internal terjadi setelah perseroan mulai menangani penuh proyek Bengalon milik PT Kaltim Prima Coal sejak Mei 2026.

Ke depan, Sugianto melihat ruang pertumbuhan yang lebih besar di semester II.