EmitenNews.com - Saratoga (SRTG) per 30 Juni 2026 boncos Rp3,87 triliun. Longsor 3.897 persen dari episode sama tahun lalu dengan tabulasi laba bersih Rp102,02 miliar. Dengan demikian, rugi per saham dasar emiten besutan Sandiaga Uno tersebut ikut bengkak menjadi Rp286 dari sebelumnya surplus Rp8.

Performa buruk menyusul kerugian bersih atas invesstasi pada saham dan efek lainnya Rp4,84 triliun, bengkak 165,93 persen dari posisi sama tahun lalu minus Rp1,82 triliun. Penghasilan dividen dan bunga Rp1,69 triliun, melonjak dari Rp1,29 triliun. Penghasilan lainnya Rp2,12 miliar, turun dari Rp2,5 miliar.

Beban usaha Rp123,05 miliar, bertambah dari Rp103,62 miliar. Beban lainnya Rp2,06 miliar, bengkak dari Rp708 juta. Rugi bersih selisih kurs Rp5,41 miliar, bertambah dari Rp565 juta. Beban bunga Rp37,08 miliar, susut dari Rp99,23 miliar. Rugi sebelum pajak Rp3,3 triliun, bengkak parah dari Rp731,66 miliar.

Rugi periode berjalan Rp3,87 triliun, drop dari laba Rp103,2 miliar. Jumlah ekuitas Rp53,69 triliun, melorot dari akhir tahun sebelumnya Rp58,91 triliun. Total liabilitas Rp3,84 triliun, bertambah dari akhir 2025 senilai Rp3,59 triliun. Jumlah aset Rp57,54 triliun, turun dari Rp62,51 triliun.

Sepanjang perdagangan hari ini, Jumat, 28 Agustus 2026, saham SRTG susut 1,02 persen alias 20 poin menjadi Rp1.935. Sejak awal tahun ini, saham SRTG melesat 24,84 persen atau 385 poin dari edisi 2 Januari 2026 di kisaran Rp1.550. Saratoga diperkuat kapitalisatie pasar Rp26,25 triliun dengan price earning rasio 1,43 kali. (*)