EmitenNews.com -  Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan berlimpahnya pasokan bahan baku minyak goreng perlu dimanfaatkan pelaku usaha untuk semakin menggencarkan produksi minyak goreng kemasan ekonomis (second brand). Untuk itu, ia mendorong produsen minyak goreng dapat memproduksi dan mendistribusikan lebih banyak minyak goreng second brand kepada konsumen, baik di pasar maupun di toko-toko ritel.

“Minyak goreng second brand itu temannya MinyaKita dan di pasar saya lihat sudah banyak (beredar minyak goreng second brand). Kami meminta para produsen mulai meningkatkan produksi minyak goreng second brand. Jadi, masyarakat punya banyak pilihan dalam membeli minyak goreng yang harganya murah tapi berkualitas,” ujar Mendag usai meninjau produksi MinyaKita PT Indokarya Internusa di Palembang, Kamis, (12/2).

Menurut Mendag yang akrab dipanggil Busan, minyak goreng second brand adalah alternatif yang tersedia bagi konsumen selain MinyaKita dan berbagai minyak goreng kemasan premium. Awalnya, MinyaKita merupakan Program Minyak Goreng Rakyat untuk mengintervensi harga minyak goreng di pasaran melalui mekanisme Domestic Market Obligation (DMO). Seiring waktu berjalan, MinyaKita berubah menjadi indikator tunggal terhadap ketersediaan dan stabilisasi harga minyak goreng.

Mendag Busan pun menekankan, menggencarkan produksi dan distribusi minyak goreng second brand akan membantu membentuk psikologi pasar dan konsumen terhadap terjaganya harga dan pasokan minyak goreng secara umum.

“Jadi, kalau misalnya MinyaKita belum masuk (ke pasar), kesannya minyak goreng langka padahal masih banyak minyak goreng lain yang bisa dipilih. Pun ketika harga MinyaKita melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET), kesannya minyak goreng mahal padahal saat itu merek-merek second brand di pasar banyak,” pungkasnya.(*).