Meski Pesanan Meningkat, Industri Barang Logam Kurangi Kapasitas

Dikarenakan masih adanya stok persediaan produk, para pelaku industri mengurangi kapasitas produksi, meskipun pesanan meningkat.(Foto: Dok)
EmitenNews.com - Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Sri Bimo Pratomo menyampaikan, pada Industri Barang Logam, Bukan Mesin dan Peralatannya, variabel produksi dan persediaan mengalami kontraksi dikarenakan masih adanya stok persediaan produk. Sehingga, para pelaku industri mengurangi kapasitas produksi, meskipun pesanan meningkat.
"Adapun subsektor Reparasi dan Pemasangan Mesin dan Peralatan mengalami kontraksi karena aktivitas usahanya sangat bergantung pada periode pemeliharaan mesin dari industri-industri utama, yang pada bulan tersebut cenderung menurun," kata Bimo seperti dilansir laman Kementerian. Hal tersebut tercermin dari variabel pesanan yang mengalami kontraksi.
Dari sisi pasar, IKI berorientasi ekspor pada Agustus 2025 mencapai 54,11, naik 0,76 poin dari Juli 2025 sebesar 53,35, didukung oleh kenaikan ekspor nonmigas sebesar 12,56 persen (yoy) pada Triwulan – II 2025.
Kenaikan ini menunjukkan daya saing produk manufaktur Indonesia di pasar global tetap terjaga, di tengah perluasan tarif resiprokal AS ke beberapa negara. Sementara itu, IKI domestik naik 0,48 poin menjadi 52,64, mencerminkan permintaan dalam negeri yang kuat, sejalan dengan inflasi terkendali di 2,37 persen (yoy).
Peningkatan IKI di bulan Agustus 2025 juga didukung oleh Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) naik pada bulan Juli 2025 menjadi 118,1, serta penjualan eceran yang diperkirakan naik menjadi 159,3 pada bulan Agustus 2025, lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya sebesar 145,8.
Sebanyak 79,8 persen pelaku usaha menyatakan kondisi usahanya meningkat dan stabil. Sebesar 32,9 persen di antaranya pelaku industri melaporkan kondisi usaha membaik (naik dari 31,2 persen persen di bulan Juli 2025) dan 46,9 persen menyatakan stabil (meningkat dari 45,9 persen pada bulan Juli 2025).
Tingkat optimisme pelaku usaha untuk 6 (enam) bulan ke depan juga meningkat dari 67,6 persen pada Juli 2025 menjadi 68,1 persen pada Agustus 2025, sementara tingkat pesimisme menurun dari 7,1 persen menjadi 5,6 persen. Secara keseluruhan, Jubir Kemenperin memandang optimisme pelaku usaha relatif terjaga untuk enam bulan kedepan, didukung oleh permintaan domestik yang kuat dan kebijakan pro-industri.
Selain itu, Febri juga menekankan pentingnya membaca kinerja sektor manufaktur melalui indikator yang akurat. Selama ini, publik sering membandingkan IKI dengan Purchasing Manager Index (PMI) manufaktur Indonesia.
Perbedaannya, IKI memiliki koresponden jauh lebih banyak, yakni sekitar 2.500–3.000 perusahaan industri dari 23 subsektor manufaktur, sehingga mampu merepresentasikan kondisi riil industri nasional secara lebih komprehensif. Sedangkan, PMI hanya mengambil sampel sekitar 500 perusahaan, sehingga cenderung kurang luas cakupannya.
“Hasil IKI pun terbukti sejalan dengan data pertumbuhan industri yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), sehingga dapat menjadi acuan valid dalam menilai kondisi aktual sektor manufaktur nasional,” pungkasnya.(*)
Related News

Simak! Berikut 10 Saham Top Losers Pekan Ini

Periksa! Ini 10 Saham Top Gainers dalam Sepekan

Usai ATH, Sepekan IHSG Terkoreksi 0,36 Persen

Jadi Dirjen Migas, Tugas Laode Sulaiman Tingkatkan Lifting

Pasokan Gas Mulai Stabil, Kemenperin Hargai Respon ESDM

Remitansi Pekerja Migran di LN Ikut Stabilkan Neraca Pembayaran