Meski Sedikit Lambat, Schroders Perkirakan PDB Indonesia Akan Tetap Solid
:
0
EmitenNews.com—Tahun 2022 telah menjadi tahun yang luar biasa bagi Indonesia dengan pemulihan pertumbuhan ekonomi yang solid disertai dengan surplus ganda di sisi fiskal dan transaksi berjalan. Meskipun Rupiah terdepresiasi sebesar 8,5%, mata uang ini tetap termasuk yang paling tangguh dibandingkan dengan mata uang lainnya.
Bank Indonesia YTD menaikkan suku bunga kebijakan sebesar 200bps menjadi 5,50% yang diharapkan sebagai pengganti kenaikan inflasi dan suku bunga secara global. Harga komoditas yang kuat merupakan salah satu pendorong utama ekonomi Indonesia yang kuat pada tahun 2022 seiring dengan pemulihan konsumsi swasta dan investasi. Hingga September, Indonesia masih mencatatkan surplus anggaran sebesar 0,3% dari PDB sebelum berubah menjadi defisit anggaran sebesar 0,9% pada bulan Oktober akibat peningkatan belanja akibat kenaikan harga BBM. Realisasi investasi juga sangat kuat di tahun 2022 karena FDI tumbuh sebesar 63,6% YoY pada 3Q22 didorong oleh industri logam dasar.
Economist Global Schroders Indonesia memperkirakan pertumbuhan PDB global 2023 sebesar 1,3% YoY setelah serangkaian downgrades karena kami memperkirakan ekonomi utama seperti AS, Zona Euro, serta China akan terus menghadapi tantangan di tahun baru. Meskipun inflasi tampaknya telah mereda di AS, dampak dari kenaikan suku bunga Fed yang agresif telah menekan ekonomi AS.
Schroders telah melihat PHK dan klaim pengangguran naik menjelang akhir tahun 2022 sementara dampak keseluruhan dari keseluruhan makro mulai tercermin dalam pendapatan perusahaan. Meskipun resesi AS masih dipertanyakan, kami berpikir bahwa perekonomian terbesar di dunia ini akan menghadapi perlambatan ekonomi yang besar pada 1H 23 sebelum melihat Fed mulai melonggarkan atau setidaknya mempertahankan suku bunga kebijakannya menjelang akhir tahun 2023. Ekonom global kami memperkirakan suku bunga Fed sebesar puncaknya di 4,50-4,75% di 1Q23 sebelum turun menjadi 3,50% pada akhir tahun 2023.
Di sisi lain, Eropa kemungkinan akan menghadapi tekanan terbesar dengan risiko stagflasi akibat harga energi yang tinggi dan ketegangan geopolitik yang sedang berlangsung dengan Rusia. ECB yang sebelumnya selalu dovish mengubah pandangannya dan mulai menaikkan suku bunga mengikuti the Fed dan BoE. Di EM, China tetap menjadi wild card karena kebijakan tetap tidak pasti terutama seputar kebijakan nol covid.
Related News
Pertumbuhan Ekonomi Jepang Kerek Imbal Hasil Obligasi 10 Tahun
Berharap AS-Iran Lanjut Negosiasi, Harga Emas Naik Dekati USD4.600
Ekonomi Jepang Tumbuh 2,1 Persen pada Kuartal Pertama 2026
Purbaya Sebut The Economist Tak Melihat Capaian Fiskal Indonesia
Potensi Logam Tanah Jarang Bukan Kaleng-kaleng, Terbaik Ada di Mamuju
Pemerintah Lelang 10 Area Migas Baru, Terbesar di Timur Laut Dalam





