EmitenNews.com - Bursa saham kawasan Asia Pasifik bergerak melemah pada perdagangan awal pekan, Senin (26/10). Indeks Nikkei 225 Jepang dan Indeks KOSPI Korea Selatan sama-sama terkoreksi akibat berlanjutnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap keberlanjutan investasi besar-besaran di sektor kecerdasan buatan (AI).

Berdasarkan data Trading Economics pada Senin (26/10), indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,3 persen hingga berada di bawah level 62.500. Pelemahan ini memperpanjang tren kerugian pekan lalu saat investor menantikan rilis laporan keuangan raksasa teknologi global serta menanti keputusan suku bunga bank sentral di Amerika Serikat, Jepang, dan Zona Euro.

Tekanan jual melanda jajaran saham teknologi utama Jepang. Saham Kioxia Holdings merosot 3,5 persen, Advantest terkikis 2,6 persen, Disco Corp turun 2,3 persen, Tokyo Electron melemah 3,1 persen, dan Ibiden Co tergerus 3 persen.

Sementara itu, indeks acuan KOSPI Korea Selatan melorot 0,80 persen ke kisaran level 5.500 pada Senin (26/10) setelah pekan lalu terkoreksi 2,08 persen. Investor mengambil sikap berhati-hati menjelang pengumuman laporan keuangan kuartal ketiga dari dua produsen chip raksasa, SK Hynix pada Rabu dan Samsung Electronics pada Kamis.

Saham-saham berbobot besar di Korea Selatan mencatatkan penurunan signifikan, antara lain Samsung Electronics yang turun 0,46 persen, LG Energy Solution melemah 1,44 persen, dan Hyundai Motor terkoreksi 1,69 persen. Di sisi lain, ekspor semikonduktor yang kuat sebelumnya membantu Korea Selatan mencetak rekor surplus transaksi berjalan tertinggi sepanjang masa sebesar USD116,63 miliar pada kuartal kedua.

Selain isu investasi AI, sentimen pasar di Asia juga terbebani oleh lonjakan harga minyak mentah dunia serta ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah jelang pemilu paruh waktu Amerika Serikat.

Pelemahan indeks bursa utama Asia ini menjadi sentimen negatif yang dicermati oleh para pelaku pasar modal di Indonesia, mengingat arah pergerakan saham teknologi regional kerap memengaruhi laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta arus modal asing di Bursa Efek Indonesia.(*)