EmitenNews.com - Pasca pengumuman MSCI yang membuka usulan penurunan klasifikasi pasar ke Standalone Market, Jumat (16/10/2026), pasar modal Indonesia mengalami tekanan jual.

Hampir sepekan, asing mencatatkan outflow dengan akumulasi lebih dari 10 triliun di seluruh pasar.

Merujuk Stockbit sepanjang periode 16-27 Oktober, foreign net sell telah mencapai Rp11,98 triliun di seluruh pasar, dan Rp13,46 triliun di pasar reguler.

Bahkan, pada perdagangan terakhir pada Senin (26/10), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 1,22 persen, mengoreksi sebagian kenaikan pekan sebelumnya. 

Investor asing kembali mencatatkan net sell harian yang meningkat hingga melampaui Rp2 triliun, sementara rupiah ditutup di atas Rp18.100 per dolar AS. 

Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan bahwa meskipun pembelian domestik sejauh ini membantu menyerap outflow asing, peningkatan tekanan jual menimbulkan pertanyaan mengenai keberlanjutan dukungan tersebut.

“Dengan ketidakpastian MSCI yang belum mereda dan tekanan eksternal yang meningkat, kami tetap berhati-hati. Arus dana asing dan stabilitas rupiah akan semakin menentukan kemampuan IHSG mempertahankan pemulihannya,” ujar Rully.

BEI Klaim Pasar Modal Indonesia Tetap Resilien

Merespons itu, Direktur Pengembangan BEI, Iding Pardi tak menampik catatan outflow yang terjadi. Menurutnya, hal itu merupakan cerminan atas kepercayaan investor yang masih menjadi tantangan.

“Itu yang menjadi fokus dan PR reformasi pasar modal yang kami lakukan,” kata Iding menjawab pertanyaan EmitenNews, Selasa (27/10/2026).