EmitenNews.com - Kinerja PT United Tractors Tbk (UNTR) sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2026 menghadapi jalan terjal setelah harus menanggung tiga pukulan telak sekaligus pada lini bisnis utamanya. 

Berdasarkan laporan resmi perusahaan hingga 30 September 2026, pukulan pertama datang dari merosotnya pendapatan bersih konsolidasian 10% menjadi Rp90,3 triliun dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp100,4 triliun. 

Pukulan kedua menghantam sisi bottom-line tatkala laba bersih perusahaan anjlok hingga 61% menjadi Rp4,5 triliun (atau turun 31% ke level Rp7,9 triliun jika tidak memperhitungkan pos non-recurring), yang diperparah oleh pembengkakan beban non-recurring senilai Rp3,5 triliun akibat penurunan nilai Supreme Geothermal Energy serta kewajiban pembayaran Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan (PPKH) di Tambang Nikel Stargate. 

Sementara itu, pukulan ketiga terlihat dari anjloknya segmen tambang emas hingga 53% akibat jatuhnya volume penjualan. Perubahan struktur modal juga mewarnai periode ini dengan posisi utang bersih perusahaan sebesar Rp4,6 triliun dan rasio gearing 4,2%, berbalik dari posisi kas bersih Rp7,7 triliun pada akhir Desember 2025 yang dipicu oleh aksi korporasi akuisisi tambang emas dan program pembelian kembali saham. 

Alat Berat Komatsu Lesu Imbas Aturan Tambang

Lesunya kinerja keuangan ini tidak lepas dari hantaman di sektor hulu, terutama pada unit usaha alat berat yang mengandalkan merek Komatsu. Sepanjang Januari hingga September 2026, total penjualan alat berat Komatsu turun 17% menjadi 3.026 unit dibandingkan 3.653 unit pada tahun sebelumnya. 

Penurunan paling kentara terjadi pada kategori mesin berukuran besar atau big machine untuk sektor pertambangan yang merosot hingga 48% menjadi 481 unit. Angka ini merupakan imbas langsung dari pemangkasan alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara nasional. 

Dari total keseluruhan penjualan, sektor pertambangan tetap menjadi penyerap terbesar sebanyak 51%, disusul oleh sektor konstruksi 20%, perkebunan 18%, dan kehutanan 11%. Di sisi lain, angin segar tipis berhembus dari lini suku cadang dan jasa pemeliharaan yang merangkak naik tipis dari Rp8,3 triliun menjadi Rp8,5 triliun, meski secara keseluruhan pendapatan bersih unit alat berat tetap ambles 19% ke angka Rp23,6 triliun.

Kontraktor PAMA Tetap Perkasa Berkat Dolar

Kendati pasar alat berat dan produksi mengalami koreksi, unit usaha kontraktor penambangan yang dijalankan melalui PT Pamapersada Nusantara (PAMA) dan PT Kalimantan Prima Persada (KPP Mining) masih mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan. Pendapatan bersih dari segmen ini naik 11% menjadi Rp44,5 triliun, yang utamanya tertolong oleh faktor penguatan kurs dolar Amerika Serikat terhadap rupiah.