EmitenNews.com - Derita investor Dian Swastatika (DSSA) benar-benar sempurna. Paripurna. Lengkap. Investor kelas sandal jepit tidak disangkal pralaya. Itu setelah berjuang sendiri di Padang kurusetra. Pendeknya, DSSA menjadi ladang pembantaian investor ritel, tepatnya pemilik 1-2 lot saham Grup Sinarmas tersebut. 

Selain terlempar dari konstituen MSCI global standard, dan FTSE Larga Cap, DSSA terlebih dahulu menyandang status hight shareholding concentrations (HSC), terpental dari IDX30, LQ45, dan IDX80, kinerja memburuk, kapitalisasi pasar terpangkas, dan harga saham berada di bawah titik nadir.

Di tengah riuh rendah itu, meski terdengar sayup-sayup, asa terakhir investor kecil untuk mendapat asupan dividen jauh panggang dari api. Meski belum diputuskan, manajemen DSSA sudah mengajukan kepada pemegang saham untuk tidak menebar dividen. Opsinya adalah laba ditahan untuk kepentingan pengembangan perseroan. 

Emiten Elite

Sebagai salah satu emiten elite, DSSA sejatinya mengawali 2026 dengan nada optimisme dan penuh antusias. Maklum, berbekal kapitalisasi pasar jumbo, dan harga saham tidak murah, DSSA menjadi salah satu penentu merah hijau, naik turun, dan fluktuasi indeks harga saham gabungan (IHSG). 

Dengan alasan memperkuat likuiditas dan menjaring lebih banyak investor ritel, DSSA memutuskan stock split. Pemecahan nominal saham itu mendapat restu dari investor dengan skema 1:25. Izin para pemodal itu, meluncur pada 11 Maret 2026. Selanjutnya, edisi 12-17 Maret 2026, saham DSSA terjun bebas. 

Selama periode itu, saham emiten pangkalan data tersebut terpangkas 20 persen. Susut 15.125 poin menjadi Rp60.475 per lembar dari edisi sebelumnya Rp75.600. Fluktuasi saham itu, mendapat sorotan Bursa Efek Indonesia (BEI). 

Merespons itu, DSSA berkelit kalau longsoran saham dipengaruhi sentimen geopolitik global, termasuk eskalasi ketegangan antar-negara, ketidakpastian arah kebijakan suku bunga global, volatilitas harga komoditas, dan nilai tukar. Kondisi itu, mendorong investor melakukan aksi jual saham perseroan, juga saham emiten lainnya.

Awal Pembantaian Investor Ritel

Stock Split menjadi pintu masuk investor ritel. Dengan bekal dana paspasan, investor kecil menjala 2 lot pada harga kisaran Rp61 ribu per saham senilai Rp12,2 juta. Dengan skema stock split 1:2, investor mendapat 50 lot dengan harga baru Rp2.440. ”Usai stock split, saham DSSA per lahan terus menanjak. Puncaknya, menyentuh level sekitar Rp3.400,” tegas Mamat, salah satu investor kecil.