EmitenNews.com -  Harga minyak mentah dunia melanjutkan tren penurunan pada perdagangan Jumat. Berdasarkan data Trading Economics minyak mentah dunia hari ini diperdagangkan mendekati USD81 per barel, sementara jenis Brent berada di kisaran USD87 per barel setelah melemah pada sesi sebelumnya.

Para investor saat ini mengambil sikap menunggu dan memantau perkembangan upaya diplomatik untuk membuka kembali Selat Hormuz. Meskipun terjadi kebuntuan di jalur laut vital tersebut, pasokan minyak mentah dilaporkan tetap mengalir keluar dari wilayah Teluk Persia.

Berdasarkan data perdagangan komoditas, sejumlah kapal tanker tetap berlayar menembus jalur tersebut. Amerika Serikat mengklaim bahwa sekitar 9 juta barel minyak per hari saat ini tetap melewati Selat Hormuz, seiring dengan peningkatan kapasitas pasukan militer AS untuk mengawal kapal-kapal tanker yang melintas dari ancaman keamanan.

Di sisi lain, tekanan terhadap harga minyak juga dipicu oleh pelemahan proyeksi permintaan global. Badan Energi Internasional (IEA) memangkas prospek permintaan minyak dunia minggu ini. IEA memperingatkan bahwa konflik yang berkepanjangan serta tingginya harga energi mulai membebani tingkat konsumsi secara signifikan.

Langkah serupa diambil oleh Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC). OPEC menurunkan perkiraan pertumbuhan permintaan minyak global untuk tahun 2026 menjadi 580.000 barel per hari. Pemangkasan ini menjadi revisi penurunan proyeksi yang keempat kalinya secara berturut-turut dari organisasi tersebut.

Kondisi dinamika harga minyak mentah global dan gangguan pada jalur pasokan utama ini menjadi perhatian penting bagi Indonesia. Sebagai negara pengimpor neto minyak bumi (net oil importer), pergerakan harga minyak dunia dan kelancaran pasokan di Selat Hormuz berpengaruh langsung pada beban subsidi energi serta besaran anggaran belanja negara.(*)