Pelemahan Rupiah dan Ancaman PHK, Begini Kondisi Industri Sepatu
:
0
Ilustrasi Pelemahan rupiah terhadap industri persepatuan. Dok. Gabungan Serikat Buruh Indonesia.
EmitenNews.com - Industri padat karya mulai merasakan dampak dari pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Industri persepatuan salah satu sektor yang merasakan lonjakan biaya bahan baku di tengah menguatnya USD. Nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin (18/5/2026) dibuka melemah tajam ke level Rp17.630. Mereka minta insentif fiskal,diskon tarif listrik dan gas untuk menghindari PHK.
Data yang ada menunjukkan, inilah salah satu level terlemah rupiah dalam beberapa tahun terakhir, seiring derasnya aliran dana ke aset dolar AS akibat ketidakpastian global. Pada krisis politik 1998, yang melengserkan Presiden Soeharto setelah 32 tahun berkuasa, mewariskan nilai tukar Rp16.800. Presiden BJ. Habibie yang melanjutkan pemerintahan, membalikkan keadaan rupiah menjadi Rp6.550.
Kepada pers, Senin (18/5/2026), Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Yoseph Billie Dosiwoda mengatakan tekanan terhadap industri sepatu sudah terasa dalam beberapa waktu terakhir, terutama pada biaya bahan baku impor.
"Bahan baku sudah naik 30-40% efek perang Iran," katanya kepada CNBC Indonesia.
Billie mengungkapkan, kenaikan biaya tersebut terjadi ketika pelaku industri masih menghadapi lemahnya permintaan global dan ketidakpastian pasar ekspor. Di sisi lain, penguatan dolar AS turut memperberat beban produksi karena sebagian besar bahan baku industri sepatu masih bergantung pada impor.
Repotnya, karena keputusan kenaikan harga produk akhir tidak sepenuhnya berada di tangan produsen dalam negeri. Penyesuaian harga sangat bergantung pada buyer dan kondisi tarif masuk di negara tujuan ekspor. Jadi, kenaikan harga ditentukan pembeli luar, dan tarif masuk ke negaranya.
Tekanan kurs dan biaya logistik global membuat pelaku industri kini memilih bersikap hati-hati sambil memantau perkembangan pasar beberapa bulan ke depan. Perusahaan juga mulai fokus menjaga keberlangsungan operasional agar tidak terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK). Billie mengungkapkan, pihaknya masih akan melihat situasi dan kondisi dalam 2-3 bulan untuk bertahan.
Satu hal, di tengah situasi tersebut, industri sepatu berharap ada dukungan konkret dari pemerintah untuk menahan lonjakan biaya produksi. Salah satu yang dinilai paling mendesak yakni insentif fiskal bagi industri padat karya. Termasuk diskon tarif listrik, dan gas operasional produksi, agar bisa tetap menghindari kebijakan PHK. ***
Related News
Efek MSCI Meluas, BI Ungkap Asing Keluar dari Saham Hingga SBN & SRBI
Pasokan Gas Dikurangi Sepihak RI, Ini Langkah yang Diambil Singapura
Data Kemendag, Ekspor Kecap Nasional Rp340M, Terbesar ke Australia
Ekonom Ini Nilai Penyaluran Kredit Rp400T Berisiko Picu Kredit Macet
Proyek NUSA, Indonesia-Singapura Incar Peluang Ekonomi Baru dari AI
Pemerintah Cabut IUP PT KEL, Rosan Perkasa Ungkap Kepastian Hukum





