Dengan perbedaan yang ada, Cholil mengimbau agar perbedaan tidak menimbulkan gesekan yang dapat merusak ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan sesama Muslim.

"Saya berharap masyarakat sudah dewasa. Ini masalah khilafiyah fikr, masalah perbedaan pemikiran dan tidak perlu dibawa-bawa pada perpecahan, tapi dijadikanlah perbedaan ini untuk kita belajar lebih banyak," ucap KH M Cholil Nafis.

Cholil juga menjelaskan pentingnya memahami konsep wihdatul mathali’ dan sa’atul mathali’, yakni perbedaan cara menentukan terlihatnya bulan berdasarkan lokasi geografis. Ada yang menganggap seluruh dunia adalah satu kalender, satu mathla’, satu tempat terlihatnya bulan. Dengan begitu pada satu negara yang dilihat bisa di sini juga sama-sama dianggap melihat dan memulai puasa.

Umat Islam dipersilahkan mempelajari perbedaan metode penentuan awal Ramadan sebagai bagian dari pengayaan ilmu. Namun, ia kembali menegaskan agar perbedaan tersebut tidak dijadikan sumber perpecahan. "Tapi jadikan ikhtilaf ummati rahmat. Menjadi rahmat bagi kita untuk kita belajar lebih banyak." ***