Penantian 4 Tahun, GOTO Akhirnya Untung Berkat Rombak Bisnis
:
0
Penantian 4 Tahun, GOTO Akhirnya Untung Berkat Rombak Bisnis. Dok. GoTo
EmitenNews.com - Perubahan strategi bisnis PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) akhirnya membuahkan titik balik nyata. Setelah bertahun-tahun melekat dengan citra "bakar uang" demi mendongkrak jumlah transaksi, GOTO kini resmi mengantongi laba bersih perdananya sejak melantai di bursa tahun 2022 silam.
Berdasarkan laporan keuangan kuartal pertama GoTo, manajemen memang mengumumkan angka laba konsolidasi sebesar Rp171 miliar. Laba konsolidasi ini adalah rapor gabungan dari total keseluruhan bisnis mereka, mencakup hasil dari induk perusahaan beserta seluruh anak usahanya.
Namun, jika ditelaah lebih dalam, nilai laba yang murni menjadi hak pemegang saham utama (pemilik entitas induk) justru tercatat lebih besar, yakni menembus Rp257,94 miliar. Lompatan ini berbalik arah secara drastis dibandingkan periode yang sama tahun lalu (Q1 2025), di mana perusahaan saat itu masih harus menelan kerugian hingga Rp366,59 miliar. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi di balik mesin bisnis GoTo sehingga mampu membalikkan keadaan dalam waktu singkat?
Ekspansi Kredit jadi Motor Penggerak Bisnis GOTO
Keberhasilan membalikkan keadaan di garis bottom-line (laba bersih) ini ditopang oleh dua pendorong utama: pergeseran mesin pertumbuhan ke segmen pinjaman (lending) dan disiplin operasional yang ketat.
Di tengah laju pertumbuhan layanan on-demand seperti mobilitas ojek online dan pesan-antar makanan yang mulai melandai, lini Financial Technology (Fintech) tampil sebagai bintang utama. Segmen ini tidak hanya memutar kerugian operasional Rp157,96 miliar di Q1 2025 menjadi laba operasional Rp130,27 miliar di Q1 2026, tetapi juga mencatatkan lonjakan nilai buku pinjaman hingga 59% (YoY) menyentuh Rp9,9 triliun. Ekspansi masif ke segmen mass market, yakni menyasar masyarakat luas di kelas menengah ke bawah sebagai basis konsumen terbesar melalui produk pembiayaan terbukti menjadi motor monetisasi (kemampuan mencetak uang) baru yang paling solid di dalam ekosistem perseroan.
Di sisi lain, efek operating leverage perseroan atau kemampuan melipatgandakan pendapatan tanpa harus menggelembungkan biaya operasional mulai bekerja optimal. Ketika pendapatan bersih grup GOTO melonjak 26% secara tahunan menjadi Rp5,34 triliun, beban penjualan dan pemasaran murni berhasil ditekan dan dikunci di angka Rp749,75 miliar. Fakta bahwa biaya akuisisi dan pemasaran ini bisa dikendalikan di bawah Rp1 triliun saat pendapatan menembus Rp5 triliun menegaskan bahwa secara bisnis kini GoTo sukses bertransisi dari perusahaan yang digerakkan oleh "bakar uang" promo, menuju retensi organik dari pengguna yang loyal.
Tambahan amunisi juga datang dari keputusan pelepasan lini e-commerce atau dekonsolidasi Tokopedia. Melalui skema ini, biaya operasional dan kerugian Tokopedia tidak lagi ditanggung oleh laporan keuangan GoTo. Alih-alih merugi untuk membiayai operasional e-commerce, entitas induk kini berbalik menikmati imbalan jasa (e-commerce service fee) senilai Rp288,22 miliar yang mengalir langsung sebagai pure margin atau keuntungan bersih kuartalan perseroan.
Kualitas Laba GOTO yang Sehat
Pencapaian laba bersih di kuartal ini menjadi semakin solid karena tidak hanya berhenti sebagai laba akuntansi (paper profit). Objektivitas investasi menuntut investor untuk menguji kualitas dari laba tersebut, dan GoTo berhasil membuktikannya di barisan laporan arus kas.
Related News
Emas ANTM Laris Manis Tanjung Kimpul, Megaproyek EV Jalan Senyap
Era Baru LQ45, Selamat Datang Pemain Baru!
Bank Jago Cuan Berkat Ekosistem, Bukti Bisa Untung Tanpa Bakar Duit
Pasar Jeruk Busuk: Alasan IHSG Anjlok & Asing Buang Barang
Kinerja WIFI, Ini Pemicu Laba Naik Hampir 3 Kali Lipat Saat Ekspansi
Kinerja Bank BCA: Kenapa Laba Tetap Naik Disaat Kredit Stagnan?





