Performa COIN Solid, Segmen Derivatif Meledak 7.623 Persen
Ade Wahyu, Direktur Utama Indokripto Koin Semesta pada suatu kesempatan. FOTO - ISTIMEWA
EmitenNews.com - Indokripto Koin Semesta (COIN) menutup tahun buku 2025 dengan kinerja keuangan positif. Sebagai emiten ekosistem perdagangan aset kripto pertama di Bursa Efek Indonesia (BEI), COIN mencatat pertumbuhan pada pos laba dan pendapatan, sejalan dengan tren pemulihan pasar aset kripto sepanjang 2025.
Kinerja solid itu, terefleksi dari pendapatan melonjak 181,12 persen menjadi Rp284,75 miliar. Sepanjang 2025, segmen perdagangan derivatif berhasil mencatat pertumbuhan signifikan. Tercatat, pendapatan segmen derivatif melangit 7.623 persen secara Year on Year (YoY) menjadi Rp60,17 miliar, dan berkontribusi 21,13 persen terhadap keseluruhan total pendapatan.
Seiring kenaikan pendapatan, EBITDA juga naik 156,29 persen menjadi Rp131,05 miliar secara YoY. Kenaikan EBITDA itu, mendorong pencapaian laba bersih melejit 14 persen menjadi Rp49,10 miliar dibanding periode sama pada tahun sebelumnya. Manajemen COIN menjelaskan edisi 2025 merupakan tahun yang mendukung bagi industri aset kripto. Kondisi pasar bergerak positif sepanjang tahun telah mendorong volume transaksi pada akhirnya berdampak langsung pada kinerja fundamental perseroan.
”Tren pasar aset kripto edisi 2025 memberikan dampak positif terhadap kinerja kedua anak perusahaan kami, yakni Bursa Kripto Central Finansial X (CFX), dan Lembaga Kustodian Kustodian Koin Indonesia (ICC). Jumlah konsumen terus bertambah, dan adopsi makin positif, khususnya pada produk derivatif di Bursa Kripto CFX, menjadi kontributor utama bagi pertumbuhan kinerja perseroan," tukas Ade Wahyu, Direktur Utama Indokripto Koin Semesta.
Selain mencatat kenaikan pada laba bersih dan pendapatan, COIN juga berhasil memperbaiki posisi neraca keuangan. Perseroan mampu menurunkan jumlah liabilitas menjadi Rp53,71 miliar dari akhir 2024 senilai Rp234,99 miliar. Saat bersamaan, total aset meningkat 5 persen menjadi Rp1,602 triliun. Peningkatan jumlah aset itu, didorong kegiatan operasional stabil, salah satunya dari transaksi segmen derivatif.
Menjalani tahun 2026, Ade memproyeksi kondisi pasar berpotensi lebih dinamis seiring ketidakpastian ekonomi makro, dan sentimen geopolitik. Kendati demikian, ia melihat kondisi tersebut dapat menjadi peluang bagi segmen derivatif untuk kembali tumbuh positif secara berkelanjutan. Di tengah volatilitas pasar, produk derivatif kripto dapat dimanfaatkan konsumen sebagai instrumen lindung nilai (hedging). Oleh karena itu, Ade optimistis segmen derivatif ini akan melanjutkan tren pertumbuhan, dan tetap menjadi salah satu penyumbang bagi pendapatan perseroan ke depan.
“Kami akan terus memperkuat portofolio usaha dan berupaya menangkap peluang baru untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan. Perseroan juga berkomitmen mendukung kegiatan operasional kedua anak usahanya, yakni Bursa Kripto CFX dan Lembaga Kustodian ICC, agar tetap mengedepankan transparansi, inovasi, dan berpegang pada prinsip tata kelola perusahaan yang baik,” uari Ade.
Sebagai informasi, COIN merupakan perusahaan holding yang menaungi dua anak usahanya, yaitu PT Central Finansial X (CFX) selaku Bursa Aset Kripto pertama di Indonesia, dan PT Kustodian Koin Indonesia (ICC) selaku lembaga penyimpanan aset kripto. Kedua anak usaha COIN tersebut telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). (*)
Related News
Melejit 152 Persen, Emiten HT (BHIT) Bungkus Laba Rp478,54 Miliar
Longsor 794,64 Persen, FILM Tekor Rp257 Miliar
Sudahi 2025, Laba dan Pendapatan RAJA Tumbuh Minimalis
Prabowo Dorong Kendaraan Listrik, NTBK Masuk Radar EV Nasional
Anjlok 43 Persen, Laba PTBA Sisa Rp2,92 Triliun
ANTM Raup Laba Rp7,2 Triliun, Telisik Ini Pemicunya





