EmitenNews.com - Dua hari berlalu sejak MSCI Inc mengumumkan hasil review indeks pasar modal Indonesia. Hal itu diketahui dalam rilis yang diunggah MSCI Inc yang mendepak 6 emiten dari MSCI Global Standard Index Indonesia, dan 13 emiten dari MSCI Global Small Caps, Rabu (13/5).

Di hari perilisannya, pasar modal Indonesia mengalami tekanan, termasuk, Indeks LQ45 yang ditutup anjlok 1,79% atau turun ke level 657,88 pada perdagangan Rabu (13/5). Pelemahan tersebut disinyalir sebagai respons lanjutan pasar terhadap hasil tinjauan indeks MSCI.

Berdasarkan data IDX Mobile, indeks LQ45 bergerak di zona merah sepanjang hari dengan titik terendah menyentuh 656,27. Total nilai transaksi di pasar mencapai Rp10,95 Triliun, yang didominasi oleh aksi jual pada saham-saham berkapitalisasi besar.

Pemicu utama koreksi tajam ini ditengarai musabab rilis hasil evaluasi MSCI Mei 2026 yang mengeluarkan sejumlah emiten kelas berat dari MSCI Global Standard Index. Nama-nama besar seperti AMMN (Amman Mineral Internasional), CUAN (Petrindo Jaya Kreasi), BREN (Barito Renewables Energy), TPIA (Chandra Asri Pacific), dan DSSA (Dian Swastatika Sentosa) resmi didepak dari indeks bergengsi tersebut.

Pasar merespons negatif kabar ini, di mana saham CUAN mencatatkan penurunan terdalam sebesar 10,05% ke level Rp850, disusul AMMN yang anjlok 9,09% ke posisi Rp3.700. Selain itu, BRPT (Barito Pacific) juga terseret jatuh hingga 8,77% ke level Rp2.080.

Equity Research Associate Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Wilbert Arifin, dalam laporannya menyebutkan bahwa langkah MSCI ini lebih cepat dari prediksi pasar.

“MSCI tampak langsung merespons penurunan free float (saham publik) lebih awal dari perkiraan kami yang semula diprediksi baru akan terjadi pada Agustus mendatang,” ungkapnya.

Eksklusi ini membawa dampak domino terhadap aliran dana asing. Mirae Asset mengestimasi bobot Indonesia dalam MSCI Emerging Markets (EM) akan merosot dari 0,7% menjadi 0,5%. Penurunan bobot sebesar 27% ini memicu potensi outflow yang masif.

“Potensi outflow dari gabungan investor aktif dan pasif akibat eksklusi ini mencapai kurang lebih USD1,7 miliar. Namun, jika memperhitungkan penurunan bobot pada konstituen lainnya, total dana yang keluar bisa membengkak hingga USD2,8 miliar,” tambah Wilbert.

Tekanan ini juga terlihat pada saham-saham perbankan raksasa yang masih bertahan di indeks MSCI namun ikut terkoreksi, seperti BBRI yang turun 3,11%, BBNI turun 1,02%, dan BMRI melemah 0,94%. Sementara itu, AMRT (Sumber Alfaria Trijaya) yang “turun kelas” ke indeks Small Cap bergerak stagnan di level Rp1.415.